Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Listrik Sering Padam, Pelaku Usaha Terancam Bangkrut 

Wamanews.id, 2 September 2026 – Gelombang pemadaman listrik yang terjadi secara berulang di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan belakangan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan dan aktivitas rumah tangga masyarakat, tetapi juga memberikan pukulan yang amat telak bagi sektor pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Terhentinya aliran arus listrik secara mendadak membuat operasional harian berbagai jenis bisnis melumpuh total, bahkan mengancam keberlangsungan usaha warga hingga berpotensi gulung tikar.

Kondisi ketidakpastian pasokan energi listrik ini merembet secara luas dan dirasakan langsung oleh berbagai sektor usaha riil di lapangan. Mulai dari bisnis sektor kuliner, jasa binatu (laundry), industri konveksi, percetakan digital, hingga usaha ritel rumahan yang menggantungkan seluruh siklus produksinya pada ketersediaan arus listrik secara konsisten. Kerugian materiil yang dialami para pelaku usaha pun terus membengkak akibat terhentinya produksi harian serta besarnya potensi kerusakan pada perangkat alat-alat elektronik usaha mereka.

Para pelaku usaha di bidang kuliner dan olahan makanan, khususnya yang sangat mengandalkan mesin pendingin (freezer) untuk menyimpan cadangan bahan baku segar seperti daging, ikan, dan bahan olahan basah lainnya, menjadi kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak. 

Tanpa adanya pasokan listrik yang stabil selama berjam-jam, bahan makanan baku tersebut menjadi cepat membusuk dan rusak sehingga tidak layak lagi untuk dijual kepada konsumen. Kondisi ini memaksa para pemilik usaha menelan kerugian materiil hingga jutaan rupiah dalam sekejap.

Hal serupa juga dialami secara langsung oleh para pengusaha jasa jahit, pabrik konveksi skala lokal, hingga usaha percetakan digital. Mesin-mesin produksi otomatis milik mereka tidak dapat beroperasi sesuai dengan target jam kerja harian, yang berujung pada penundaan penyelesaian pesanan para pelanggan. Keterlambatan distribusi barang pesanan ini tidak hanya memangkas tingkat pendapatan harian usaha, tetapi juga merusak reputasi dan tingkat kepercayaan konsumen yang selalu menuntut ketepatan waktu dalam pelayanan.

Di sisi lain, bagi para pengusaha skala kecil dan menengah, opsi alternatif untuk mengoperasikan mesin genset mandiri bukanlah solusi yang efisien maupun ramah di kantong. Biaya pengeluaran ekstra untuk pemenuhan bahan bakar minyak (BBM) demi menyalakan mesin genset dinilai sangat tinggi dan mahal. Pembengkakan biaya operasional tambahan tersebut secara langsung menggerus margin keuntungan bersih usaha yang sejak awal sudah sangat tipis di tengah tantangan ekonomi saat ini.

Kondisi sulit yang dialami para pelaku UMKM ini memicu keluhan serta desakan kuat agar pihak pengelola ketenagalistrikan segera menuntaskan segala kendala teknis dan memberikan kepastian jadwal pemadaman secara transparan. Ketiadaan kepastian informasi jadwal pemadaman membuat para pemilik usaha sangat kesulitan dalam merancang strategi alur kerja, mengatur pergeseran jam kerja karyawan, maupun menyusun skema alokasi produksi harian secara efektif.

Sektor UMKM selama ini dikenal sebagai fondasi utama dan tulang punggung pergerakan perekonomian daerah yang menyerap banyak tenaga kerja lokal. Apabila gangguan kelistrikan ini terus berlangsung secara berkepanjangan tanpa adanya solusi konkret di lapangan, ancaman penutupan usaha secara permanen atau pemutusan hubungan kerja bukanlah sekadar kekhawatiran belaka, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan hidup masyarakat.

Para pelaku usaha bersama masyarakat luas sangat berharap adanya perhatian serius, respons cepat, serta langkah mitigasi darurat dari pihak penyedia layanan listrik agar keandalan sistem interkoneksi kelistrikan segera pulih total, sehingga roda perekonomian rakyat dapat kembali berputar dengan normal dan stabil.

Penulis

Related Articles

Back to top button