Kontroversi Pemotretan Finalis Putra-Putri Sulsel Dengan Sarung Modifikasi Mirip Rok Mini Tuai Kritik

Ajang pemilihan Putra-Putri Sulawesi Selatan (Sulsel) memicu perbincangan hangat setelah foto pemotretan para finalisnya viral di media sosial. Foto tersebut menuai kritik karena menampilkan penggunaan sarung tradisional perempuan Sulawesi Selatan yang dimodifikasi menyerupai rok mini.
Polemik ini mendapat tanggapan keras dari berbagai pihak, termasuk Andi Redo, pemerhati budaya sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Makassar. Lewat akun Instagram pribadinya @donredo, ia menyampaikan kekecewaannya atas pemotretan yang dinilai mencederai nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan.
“Sarung perempuan Sulawesi Selatan bukan sekadar kain penutup tubuh, tetapi simbol kehormatan, keanggunan, dan kesopanan. Memodifikasi tanpa memahami nilai filosofisnya adalah bentuk pelecehan budaya,” tegas Andi Redo.
Ia menyoroti pentingnya etika dalam berkreasi. Menurutnya, mempromosikan budaya harus dilakukan dengan penghormatan penuh terhadap nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain itu, kritik juga diarahkan kepada Yayasan Sahabat Pemuda Prestasi Indonesia (YASPPI) selaku penyelenggara ajang tersebut. Mereka dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga citra positif budaya Sulawesi Selatan.
“YASPPI bukan sekadar agensi model biasa, tetapi membawa nama daerah. Seharusnya mereka menjaga nilai budaya dan adat,” lanjut Andi Redo.
Sejauh ini, pihak YASPPI belum memberikan tanggapan resmi terkait kontroversi ini. Namun, polemik tersebut menjadi pengingat bahwa mengangkat budaya di ruang publik memerlukan kehati-hatian serta penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
Foto yang memicu kontroversi pertama kali diunggah oleh akun Instagram @info_kejadian_makassar pada Senin (10/2/2025). Dalam unggahan tersebut, terlihat tiga finalis Putra-Putri Sulawesi Selatan 2025 mengenakan baju bodo, pakaian adat khas perempuan Sulawesi Selatan. Namun, perhatian publik tertuju pada penggunaan sarung yang hanya menutupi bagian atas lutut, berbeda jauh dari tradisi yang menutupi hingga mata kaki.
“Beredar foto model pakaian khas Sulawesi Selatan yang tampil berbeda dari biasanya,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Reaksi warganet pun beragam, namun sebagian besar mengecam pemotretan ini sebagai bentuk pelecehan terhadap budaya Sulawesi Selatan. Mereka menilai bahwa pakaian adat memiliki nilai filosofis yang tidak seharusnya dimodifikasi secara sembarangan. Hingga kini, pihak penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi terkait kontroversi ini.







