Aksi Buruh di Flyover Makassar: Soroti Kelangkaan BBM hingga Suarakan Desakan Mundur Prabowo-Gibran

Wamanews.id, 28 Agustus 2026 – Gelombang kritik terhadap kinerja pemerintah pusat tidak hanya menggemuruh di kawasan Senayan, Jakarta. Dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kecaman serupa bertiup kencang seiring aksi demonstrasi yang digalang oleh elemen mahasiswa, buruh, dan organisasi masyarakat sipil pada Kamis (27/8/2026).
Salah satu titik fokus aksi dipusatkan di kawasan strategis Flyover, Jalan AP Pettarani, Kecamatan Panakkukang. Di lokasi ini, kelompok massa dari Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) Kota Makassar menggelar aksi unjuk rasa dengan membakar ban bekas di tengah badan jalan.
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk solidaritas atas perjuangan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang tengah melangsungkan unjuk rasa besar di Jakarta, sekaligus bentuk respons atas berbagai persoalan mendasar yang menghimpit kaum buruh.
Ketua Serikat Pekerja Maritim Indonesia Makassar, Fikasianus Icang, mengonfirmasi bahwa aksi turun ke jalan ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan buruh terhadap kebijakan pemerintah pusat. Isu yang disuarakan mencakup sektor pendidikan, ketenagakerjaan, penyediaan lapangan kerja, hingga fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Terkait dengan aksi ini, kita merespons perjuangan kawan-kawan yang ada di Jakarta. Ada beberapa isu yang tersebar di media sosial dan kami di Kota Makassar menanggapi positif perjuangan itu,” tegas Fikasianus di sela-sela aksi.
Fikasianus menyoroti bahwa kualitas pendidikan nasional terus mengalami kemunduran. Selain itu, kelangkaan BBM yang terjadi di lapangan berdampak langsung pada mobilitas harian buruh. Kesulitan memperoleh BBM memicu antrean panjang dan kemacetan lalu lintas di mana-mana, sehingga mengganggu efisiensi kerja masyarakat kecil.
Sektor lain yang turut dikritik secara tajam adalah dampak dari program andalan pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Fikasianus, pelaksanaan program tersebut dibayangi oleh melambungnya harga kebutuhan bahan pokok di pasaran. Kenaikan harga ini dirasa semakin membebani daya beli masyarakat, khususnya kelompok buruh yang berpenghasilan rendah.
“Kalau harga naik, apalagi upah buruh tidak menentu, yang hanya satu atau dua juta per bulan, tentu ini sangat kami soroti,” ungkap Fikasianus.
Dalam pergerakannya, FSPMI Kota Makassar membagikan pernyataan sikap yang memuat lima tuntutan utama kepada pemerintah. Salah satu tuntutan paling krusial yakni mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Tak hanya pucuk pimpinan eksekutif, massa aksi juga menuntut mundurnya sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Ketua DPR RI, Kapolri, Jaksa Agung, hingga Ketua Mahkamah Agung.
Menanggapi gelombang demonstrasi ini, kepolisian di Kota Makassar telah menyiagakan pengamanan ketat. Kasi Humas Polrestabes Makassar, AKP Jafar Ahmad, mengungkapkan bahwa berdasarkan surat pemberitahuan aksi yang masuk, demonstrasi berlangsung secara serentak di 18 titik lokasi di Makassar.
Titik-titik tersebut tersebar di area kantor pemerintahan, markas penegak hukum, serta fasilitas publik. Adapun isu yang dibawa kelompok massa terbilang beragam, mulai dari sektor ekonomi, hukum, politik, korupsi, sengketa lahan, lingkungan, hingga seruan boikot terhadap perbankan.
Guna menjaga situasi tetap terkendali, sebanyak 833 personel gabungan diterjunkan, yang terdiri dari 220 personel Polda Sulsel dan 613 personel Polrestabes Makassar.
“Masyarakat agar menghindari titik unras dan senantiasa menjaga agar unras berlangsung kondusif,” pesan AKP Jafar Ahmad mengimbau warga pengguna jalan.







