
Wamanews.id, 10 September 2026 – Laju inflasi tahunan di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatatkan tren peningkatan pada periode Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan melansir tingkat inflasi year on year (y-on-y) Sulsel berada di angka 2,86 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,02.
Capaian tersebut menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan inflasi tahunan pada Juli 2026 sebelumnya yang berada di level 2,75 persen. Berdasarkan hasil pantauan intensif BPS Sulsel di delapan kabupaten/kota sampel IHK, Kabupaten Wajo mencatatkan angka inflasi tertinggi, sementara Kota Palopo berada di posisi terendah.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Wajo sebesar 3,08 persen dengan IHK sebesar 112,63 dan terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 1,73 persen dengan IHK sebesar 110,57,” tulis BPS Sulsel dalam laporan rilis resminya.
BPS Sulsel membeberkan bahwa lonjakan inflasi tahunan pada Agustus 2026 ini dipicu oleh kenaikan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan inflasi tahunan melonjak paling tinggi, yakni mencapai 9,75 persen. Peningkatan drastis pada kelompok ini terutama didorong oleh melambungnya harga komoditas emas perhiasan di pasaran.
Secara rinci, beberapa kelompok pengeluaran lain yang turut menyumbang inflasi y-on-y di antaranya:
- Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: Inflasi sebesar 3,90 persen.
- Transportasi: Inflasi sebesar 2,86 persen.
- Makanan, Minuman, dan Tembakau: Inflasi sebesar 2,55 persen.
- Pendidikan: Inflasi sebesar 2,42 persen.
- Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: Inflasi sebesar 2,22 persen.
- Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: Inflasi sebesar 2,11 persen.
- Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan: Inflasi sebesar 1,94 persen.
- Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga: Inflasi sebesar 1,53 persen.
- Kesehatan: Inflasi sebesar 1,31 persen.
- Pakaian dan Alas Kaki: Mengalami inflasi paling rendah sebesar 0,09 persen.
Dilihat dari komoditas penentunya, emas perhiasan tampil sebagai komoditas yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar di Sulawesi Selatan, yakni mencapai 0,64 persen. Komoditas lain yang mengekor di belakangnya antara lain bensin dengan andil 0,15 persen, minyak goreng 0,12 persen, nasi dengan lauk 0,12 persen, sigaret kretek mesin (SKM) 0,11 persen, serta daging ayam ras sebesar 0,10 persen.
Selain itu, sewa rumah (0,09 persen), pelumas/oli mesin (0,08 persen), ikan layang/ikan benggol (0,08 persen), telepon seluler (0,08 persen), serta cabai merah (0,06 persen) juga memberikan andil nyata terhadap laju inflasi tahunan.
Dilihat dari andil per kelompok, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil tahunan terbesar sebesar 0,80 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,79 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,36 persen.
Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Sulawesi Selatan mencatatkan inflasi yang cukup terkendali sebesar 0,14 persen pada Agustus 2026. Komoditas utama pendorong inflasi bulanan mencakup daging ayam ras, telur ayam ras, sewa rumah, dan jagung manis dengan andil masing-masing 0,03 persen.
Sementara komoditas pelumas/oli mesin, cabai rawit, serta ikan teri masing-masing menyumbang andil 0,02 persen, disusul telepon seluler, ayam goreng, dan beras dengan andil masing-masing 0,01 persen. Dengan dinamika pergerakan harga hingga Agustus 2026 ini, BPS mencatat tingkat inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) Provinsi Sulawesi Selatan kini berada pada angka 2,51 persen.







