Kelangkaan BBM dan LPG 3 Kg Resahkan Warga, Mahasiswa Turun ke Jalan

Wamanews.id, 11 September 2026 – Gelombang protes terkait sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan gas LPG 3 kilogram di wilayah Sulawesi Selatan kian meluas. Sejumlah kelompok mahasiswa di Kota Makassar mulai merapatkan barisan dan turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa guna menyuarakan keresahan warga akibat krisis energi yang terjadi belakangan ini.
Salah satu aksi unjuk rasa digelar oleh kelompok massa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM). Mereka menggelar aksi demonstrasi hingga memblokir jalan di area Pertigaan Jalan A.P. Pettarani – Jalan Hertasning, Kota Makassar, pada Kamis (10/9/2026). Dalam aksi tersebut, massa membakar ban bekas di tengah jalan serta membentangkan spanduk bertuliskan “Sulsel Krisis Energi, Semua Karena Bahlil” sebagai bentuk kritik keras terhadap kondisi pengelolaan energi saat ini.
Massa aksi secara bergantian menyampaikan orasi politik yang menyoroti penderitaan masyarakat akibat antrean panjang BBM jenis Pertalite dan Solar di berbagai SPBU, serta kelangkaan tabung gas LPG 3 kg yang semakin sulit didapatkan di pasaran.
“Hari ini, masyarakat Sulawesi Selatan sedang menghadapi berbagai persoalan, khususnya di bidang energi. Sehingga diperlukan keberanian seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa untuk terus mengawal persoalan ini sampai tuntas,” tegas salah satu orator aksi di lokasi.
Panglima Besar Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM), Fajar Wasis, menegaskan bahwa aksi demonstrasi di pertigaan Pettarani-Hertasning ini merupakan gerakan awal atau prakondisi.
Ia memastikan bahwa aksi gelombang protes tidak akan berhenti sampai pemerintah dan pihak terkait menyelesaikan masalah kelangkaan energi yang membelit warga.
“Aksi prakondisi ini merupakan gerakan spontanitas. Persoalan yang terjadi hari ini sudah sangat menyengsarakan rakyat Sulawesi Selatan,” ujar Fajar di tengah-tengah massa aksi.
Fajar menambahkan, GAM akan segera menggelar konsolidasi lanjutan bersama berbagai elemen gerakan masyarakat lainnya guna merespons ragam kebijakan pemerintah yang dinilai kontroversial dan berdampak luas bagi publik. Pihaknya menjadwalkan aksi demonstrasi susulan pada Jumat (11/9/2026) berlokasi di depan Kantor Pertamina Regional VII, Jalan Garuda, Kecamatan Mariso, Makassar.
“Kami akan melakukan konsolidasi secara menyeluruh untuk merespons berbagai persoalan yang berkembang. Setiap isu akan kami kaji secara ilmiah sehingga sikap maupun tuntutan yang kami sampaikan nantinya memiliki dasar argumentasi yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademis,” jelas Fajar secara rinci.
Keresahan atas kelangkaan pasokan BBM bersubsidi ini tidak hanya disuarakan oleh kelompok GAM. Pada siang hari yang sama, sekelompok gabungan elemen buruh dan mahasiswa juga mendatangi dan menggelar unjuk rasa di depan Kantor Pertamina Regional VII Makassar.
Massa gabungan buruh dan mahasiswa tersebut mendatangi lokasi dengan mengendarai sejumlah sepeda motor serta satu unit kendaraan mobil bak terbuka yang difungsikan sebagai panggung orasi utama. Mereka menyoroti antrean kendaraan yang kian memanjang di berbagai SPBU di Kota Makassar dan sekitarnya akibat ketidakpastian distribusi BBM bersubsidi.
“Sudah banyak keresahan masyarakat terjadi akibat kelangkaan BBM,” teriak sang orator dari atas mobil bak terbuka di depan pintu masuk Kantor Pertamina Regional VII.
Aksi bergelombang dari gabungan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil ini menjadi sinyal peringatan kuat agar pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta PT Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan kembali pasokan BBM dan LPG 3 kg di wilayah Sulawesi Selatan.







