Dari ASN ke Pengusaha: Andi Faisal Bangun Menza Fried Chicken hingga Pekerjakan 25 Orang

Wamanews.id, 17 September 2026 – Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak menghalangi Andi Faisal Jumardin berkarya di bidang usaha. Di sela tanggung jawabnya sebagai abdi negara, ia mengembangkan Menza Fried Chicken, bisnis kuliner yang kini beroperasi 24 jam dan mempekerjakan sekitar 25 orang.
Bagi Andi Faisal, ASN dan dunia usaha memiliki ruang pengabdian berbeda. Sebagai ASN, ia melayani masyarakat. Melalui bisnis, ia menciptakan lapangan kerja sekaligus ikut menggerakkan perekonomian daerah.
“Saya memang punya ketertarikan di dunia bisnis. Bagi saya, ASN dan dunia usaha punya ruang pengabdian yang berbeda. Sebagai ASN kita melayani masyarakat, sementara melalui usaha kita bisa menciptakan lapangan kerja dan ikut menggerakkan ekonomi,” ujar Andi Faisal.
Menza Fried Chicken dirintis dengan modal sekitar Rp3 juta. Saat itu, usaha tersebut masih sederhana, dengan tim kecil dan sistem kerja yang belum tertata.“Modal awalnya sekitar 3 juta rupiah. Kondisinya masih sangat sederhana, tim kecil, sistem juga belum terbentuk. Jadi waktu itu kami benar-benar belajar dari pasar sambil terus memperbaiki operasional,” katanya.
Seiring waktu, Andi Faisal membangun standar kerja, membagi tugas, dan memperkuat sistem agar bisnis tidak bergantung sepenuhnya pada pemilik. Pemanfaatan layanan pemesanan online turut memperluas jangkauan pelanggan.
Kini, sekitar 25 karyawan terlibat dalam operasional Menza Fried Chicken. Bagi Andi Faisal, pertumbuhan tim menjadi bagian penting dari bisnis, terlebih ia tetap harus menjalankan tugas kedinasan secara profesional.“Kuncinya ada di system, delegation, dan controlling.
Saat menjalankan tugas sebagai ASN, fokus saya tetap di pekerjaan kedinasan. Bisnis harus bisa berjalan melalui tim dan sistem, sehingga tidak semuanya bergantung pada owner,” jelasnya.Menurutnya, menjalankan dua peran bukan sekadar soal membagi waktu, melainkan menjaga fokus, tanggung jawab, dan kepercayaan kepada tim. Pendelegasian menjadi kunci agar setiap pekerjaan dapat berjalan efektif.
Ia juga menyadari bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu linear. Ada fase berkembang, tetapi ada pula masa koreksi yang menuntut pelaku usaha membaca perubahan pasar dan segera melakukan perbaikan.
“Tentu ada perubahan yang cukup signifikan. Tapi dalam bisnis, grafiknya tidak selalu naik. Ada fase growth, ada juga fase koreksi. Yang penting adalah bagaimana kita cepat membaca kondisi pasar dan melakukan improvement,” tuturnya.
Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari konsistensi produk, pelayanan, perkembangan tim hingga kekuatan sistem.
“Jangan terlalu cepat merasa bisnis kita sudah bagus. Harus terus melakukan evaluasi dan improvement. Produk harus konsisten, pelayanan harus baik, tim harus berkembang, dan sistem harus semakin kuat,” katanya.
Kepada anak muda di Sengkang dan Wajo yang ingin berwirausaha tetapi masih ragu, Andi Faisal berpesan agar tidak menunggu kondisi sempurna.
“Jangan menunggu semuanya sempurna baru mulai. Mulai dari skala kecil, validasi pasar, dengarkan customer, lalu terus improve. Kita tidak harus berada di kota besar untuk membangun bisnis besar,” pesannya.
Dari modal Rp3 juta, Menza Fried Chicken tumbuh melalui proses belajar, membaca pasar, memperbaiki sistem, dan membangun tim. Kisah Andi Faisal menunjukkan bahwa ASN tetap dapat produktif di luar tugas kedinasan, sekaligus menciptakan peluang kerja dan penghasilan bagi orang lain.







