Topang Swasembada Pangan, Pemprov Sulsel Pacu Program MYP Irigasi

Wamanews.id, 16 September 2026 – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terus memperkuat komitmennya sebagai salah satu lumbung pangan nasional utama di kawasan Indonesia bagian timur. Salah satu terobosan infrastruktur strategis yang secara konsisten digulirkan adalah percepatan rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi persawahan melalui skema program Multi Years Project (MYP) atau proyek tahun jamak.
Program pembenahan infrastruktur pengairan secara menyeluruh ini dipacu guna memastikan pasokan air baku ke lahan pertanian masyarakat tetap aman, sekaligus menjadi fondasi utama dalam menyokong agenda kemandirian dan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.
Sulawesi Selatan selama ini memegang peranan krusial dalam menyuplai cadangan beras ke berbagai provinsi lain di Tanah Air. Namun, ancaman perubahan iklim global, ancaman kemarau panjang, serta degradasi fisik saluran air di sejumlah sentra produksi pertanian kerap menjadi kendala dalam memaksimalkan hasil panen.
Berangkat dari tantangan tersebut, skema proyek tahun jamak dipilih agar proses pengerjaan konstruksi saluran irigasi primer, sekunder, hingga saluran tersier dapat diselesaikan secara komprehensif tanpa terputus kendala tahun anggaran belanja daerah.
Berikut ulasan lengkap mengenai implementasi program MYP irigasi terpadu yang digenjot oleh Pemprov Sulsel dalam memperkuat ketahanan pangan:
Melalui program MYP ini, Pemprov Sulsel memfokuskan pengerjaan fisik pada pemulihan dan peningkatan jaringan daerah irigasi strategis yang mengalami pendangkalan sedimentasi, dinding saluran retak, serta kerusakan pada pintu air pembagi. Perbaikan konstruksi yang terintegrasi ini ditujukan langsung untuk mengamankan distribusi pasokan air ke puluhan ribu hektare hamparan sawah produktif milik warga petani.
Dengan debit air yang terdistribusi secara tertib dan merata ke setiap petak sawah, pola tanam para petani tidak lagi sepenuhnya bersandar pada pola curah hujan musiman. Efisiensi manajemen penyaluran air ini juga terbukti ampuh dalam meminimalkan risiko ancaman gagal panen atau puso akibat kekeringan parah saat musim kemarau tiba, sekaligus menjaga saluran pembuangan tetap lancar saat musim penghujan.
Dampak nyata yang ditargetkan dari pembenahan jaringan irigasi tahun jamak ini adalah lonjakan Indeks Pertanaman (IP) di sentra-sentra lumbung padi Sulawesi Selatan. Lahan persawahan yang mulanya hanya sanggup melakukan satu kali siklus panen dalam kurun satu tahun (IP 100), didorong secara bertahap agar mampu berproduksi dua hingga tiga kali masa panen dalam setahun (IP 200 hingga IP 300).
Kenaikan frekuensi panen tersebut berbanding lurus dengan peningkatan volume total produksi gabah kering giling (GKG) tahunan daerah. Hal ini tidak hanya memperkokoh stok cadangan pangan pemerintah daerah dan nasional, tetapi juga berimbas positif secara langsung pada perbaikan stabilitas ekonomi, perputaran kas, serta taraf kesejahteraan keluarga para petani di kawasan perdesaan.
Pemerintah Provinsi Sulsel menegaskan bahwa keberhasilan agenda proyek MYP irigasi ini bertumpu pada kolaborasi yang erat antara dinas teknis pengelolaan sumber daya air, balai wilayah sungai kementerian, kelompok perkumpulan petani pemakai air (P3A), serta jajaran pemerintah kabupaten dan kota di seluruh basis lumbung pangan.
Ketersediaan infrastruktur saluran air yang andal dan kokoh diyakini menjadi pilar utama dalam modernisasi ekosistem pertanian modern. Bersanding dengan kemudahan penyaluran pupuk bersubsidi, bantuan benih varietas unggul, serta pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan), keberadaan jaringan irigasi yang prima merupakan prasyarat mutlak demi mempertahankan surplus beras Sulawesi Selatan.
Lewat kesinambungan proyek MYP irigasi ini, Pemprov Sulsel optimistis ketahanan pangan daerah akan makin kokoh dan mampu terus memberikan kontribusi nyata bagi pemenuhan kebutuhan pangan jutaan masyarakat Indonesia secara mandiri.







