Rupiah Masih Tertahan di Rp17.800, Klaim ‘Pulih Semalam’ Menkeu Purbaya Kembali Disorot

Wamanews.id, 30 Juni 2026 – Dinamika pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus memicu diskursus hangat di kalangan pengamat ekonomi dan publik. Di tengah upaya keras menjaga stabilitas moneter nasional, pernyataan masa lalu Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali mencuat ke permukaan dan menjadi sorotan tajam.
Pada awal tahun 2026, saat rupiah mulai merangkak di bawah tekanan hebat, Menkeu Purbaya sempat melontarkan klaim kontroversial bahwa dirinya mengetahui formula jitu untuk mengembalikan keperkasaan mata uang Garuda dalam hitungan hari. Namun, memasuki akhir Juni 2026, realitas di papan perdagangan valuta asing menunjukkan tantangan yang jauh lebih kompleks. Meski sempat mencatatkan penguatan tipis pada pembukaan pekan ini, posisi rupiah faktanya masih tertahan di kisaran psikologis yang cukup berat, yakni Rp17.800 per dolar AS.
Kilas balik dari pernyataan tersebut terjadi di kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/1/2026). Kala itu, Purbaya menegaskan secara gamblang bahwa ia sangat memahami akar masalah pelemahan rupiah sekaligus memiliki formula taktis untuk membenahinya secara instan.
“Saya tahu betul alasannya kenapa (rupiah melemah) dan memperbaikinya dua hari, semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan bank sentral,” ujar Purbaya seperti dikutip dari laporan fajar.co.id, Selasa (30/6/2026).
Menkeu memilih untuk menahan detail strategi tersebut dengan dalih menghormati independensi institusi. Menurutnya, regulasi dan kewenangan penuh terkait intervensi serta stabilitas nilai tukar mata uang berada mutlak di bawah otoritas bank sentral, yakni Bank Indonesia (BI), bukan Kementerian Keuangan. Purbaya bahkan meminta awak media untuk mengarahkan seluruh pertanyaan teknis seputar fluktuasi rupiah langsung kepada pihak BI agar tidak memicu kegaduhan publik akibat tumpang tindih kewenangan.
Sebagai catatan historis, pada hari ketika Purbaya melontarkan klaim tersebut (20/1/2026), rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS, sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menempatkannya di posisi Rp16.981 per dolar AS.
Tabel: Perbandingan Kurs Rupiah dan Sentimen Pasar Akhir Juni 2026
| Parameter Pasar Global & Domestik | Posisi Nilai Tukar & Status Indikator | Implikasi Terhadap Sentimen Pasar |
| Kurs Pembukaan (29/6/2026) | Rp17.868 per Dolar AS (Menguat 0,30%). | Respons positif jangka pendek di awal pekan. |
| Kurs Penutupan (26/6/2026) | Rp17.970 per Dolar AS. | Tekanan tinggi di akhir pekan sebelumnya. |
| Kurs BCA E-Rate (07.13 WIB) | Beli: Rp17.830 | Jual: Rp17.930. | Margin likuiditas perbankan komersial. |
| Faktor Penekan Eksternal | Suku Bunga The Fed & Konflik Selat Hormuz. | Investor global beralih ke aset safe haven. |
| Faktor Penyangga Internal | Surplus Neraca Dagang & Cadangan Devisa. | Menjaga stabilitas dalam jangka menengah. |
Memasuki sesi perdagangan akhir semester pertama, tepatnya Senin (29/6/2026), rupiah sebenarnya dibuka dengan tren positif, menguat sekitar 0,30 persen ke level Rp17.868 per dolar AS setelah sempat terpuruk ke posisi Rp17.970 pada akhir pekan sebelumnya. Kendati demikian, apresiasi ini dinilai belum cukup kuat untuk membawa mata uang nasional kembali ke zona aman di bawah Rp17.000.
Para pelaku pasar terpantau memasuki pekan terakhir Juni dengan sikap ekstra hati-hati akibat kuatnya gempuran sentimen eksternal. Faktor utama yang menjepit posisi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, adalah ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve(The Fed). Ekspektasi pasar yang tinggi terhadap suku bunga AS membuat indeks dolar AS (DXY) kokoh di zona hijau. Kondisi ini diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang memicu arus modal global keluar (capital outflow) menuju aset-aset aman (safe haven).
Meskipun dihantam badai eksternal, fundamental ekonomi domestik Indonesia sebenarnya masih menunjukkan resiliensi yang solid. Kepercayaan investor luar negeri terhadap pasar obligasi pemerintah dilaporkan tetap terjaga. Ditambah lagi, posisi cadangan devisa yang memadai serta tren surplus neraca perdagangan yang berlanjut menjadi bantalan krusial yang menahan rupiah agar tidak merosot lebih dalam ke zona depresiasi.







