Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen di Akhir 2025, Menkeu Purbaya Akui Meleset dari Target Awal

Wamanews.id, 9 Januari 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi memaparkan proyeksi terbaru mengenai kinerja ekonomi nasional pada penutup tahun anggaran 2025. Dalam konferensi pers “APBN Kita” yang digelar di Jakarta pada Kamis (8/1/2026), Menkeu mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan berada di level 5,45 persen.

Angka tersebut menunjukkan adanya deviasi atau pergeseran dari target awal yang dipatok pemerintah sebelumnya. Pada awal tahun, Pemerintah sempat optimis bahwa pertumbuhan ekonomi di pengujung tahun 2025 mampu menyentuh angka 5,7 hingga 6 persen. Meskipun proyeksi terbaru ini meleset dari target optimistis tersebut, Menkeu Purbaya menilai capaian ini tetap merupakan sebuah progres yang patut diapresiasi.

“Kira-kira 5,45 persen kalau tidak ada perubahan. Di bawah janji saya, tapi lumayanlah, masih lebih tinggi dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa di hadapan awak media.

Melihat rekam jejak sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya menunjukkan tren pendakian yang stabil meskipun menghadapi berbagai tantangan makro. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, perjalanan ekonomi RI tahun 2025 dimulai dengan pertumbuhan sebesar 4,87 persen pada kuartal I.

Angka ini kemudian merangkak naik menjadi 5,12 persen pada kuartal II, sedikit terkoreksi namun tetap kuat di level 5,04 persen pada kuartal III, hingga akhirnya diproyeksikan mencapai puncaknya di angka 5,45 persen pada kuartal IV. Secara keseluruhan tahun (full year), pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025 diperkirakan akan parkir di level 5,2 persen.

Selain angka pertumbuhan, Menkeu juga menyoroti sejumlah indikator asumsi makro lainnya yang mengalami dinamika cukup tinggi. Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah laju inflasi. Hingga Desember 2025, inflasi nasional tercatat mencapai 2,92 persen. Angka ini sedikit melampaui asumsi APBN yang menargetkan inflasi tetap terjaga di level 2,5 persen.

Menurut Purbaya, pergerakan inflasi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan harga domestik serta penguatan peran Perum Bulog dalam mengintervensi harga pangan di pasar. Meski melampaui target, pemerintah mengklaim angka tersebut masih dalam batas yang terkendali jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

Tantangan lain yang cukup berat berasal dari sektor moneter, di mana nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS mengalami tekanan hebat. Realisasi kurs pada akhir 2025 mencapai Rp 16.475 per dollar AS, menjauh dari asumsi APBN yang mematok angka Rp 16.000.

“Pergerakan kurs dipengaruhi oleh perang dagang yang kembali memanas serta dinamika kebijakan global dan domestik yang sangat cair sepanjang tahun lalu,” jelas Menkeu.

Di sisi lain, terdapat beberapa indikator yang realisasinya justru berada di bawah target, baik secara positif maupun negatif bagi postur anggaran. Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat mengalami penurunan tajam ke level 67,95 dollar AS per barel di akhir tahun, jauh dari asumsi awal sebesar 82 dollar AS per barel. Penurunan ini memberikan ruang napas bagi beban subsidi energi, namun di sisi lain mengurangi potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat berada di level 6,71 persen, lebih rendah dari target APBN yang berada di level 7 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap surat utang negara masih relatif terjaga meski kondisi ekonomi global sedang tidak menentu.

Meskipun beberapa “janji” target tidak terpenuhi secara presisi, Menkeu Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam koridor yang sehat. Peningkatan pertumbuhan di kuartal IV menjadi modal berharga bagi pemerintah untuk menyusun strategi yang lebih tajam di tahun anggaran 2026.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat konsumsi domestik dan mendorong investasi sebagai mesin utama pertumbuhan, sembari tetap waspada terhadap risiko geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global.

“Tahun 2025 telah memberikan banyak pelajaran berharga. Meski meleset tipis dari target kuartal IV, tren kenaikan yang ada membuktikan bahwa kebijakan kita sudah berada di jalur yang benar,” pungkasnya.

Penulis

Related Articles

Back to top button