Waspada Kemarau Maju! BMKG Prediksi April 2026 Mulai Kering, El Niño Mengintai

Wamanews.id, 12 Maret 2026 – Masyarakat Indonesia diimbau untuk segera bersiap menghadapi perubahan cuaca yang signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis prediksi terbaru yang menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah nusantara akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dari biasanya.
Pergeseran pola iklim ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari lalu. Saat ini, kondisi iklim global telah bergeser ke fase Netral dan diprediksi akan terus bergerak menuju fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan anomali iklim di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28. Meski saat ini masih dalam fase Netral, peluang munculnya El Niñokategori Lemah hingga Moderat mencapai 50-60% pada semester kedua tahun ini.
“Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau,” jelas Faisal dalam keterangan persnya, Kamis (12/3/2026).
Data BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3% wilayah Indonesia akan mulai merasakan teriknya kemarau pada April 2026. Wilayah yang terdampak awal meliputi:
- Pesisir utara Jawa bagian barat.
- Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
- Bali, NTB, dan NTT.
- Sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa sebanyak 325 ZOM atau 46,5% wilayah Indonesia mengalami awal kemarau yang dikategorikan MAJU atau lebih cepat dari rerata klimatologinya.
Bagi warga Sulawesi dan Jawa, kewaspadaan ekstra perlu ditingkatkan pada bulan Agustus mendatang. BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026, mencakup 61,4% wilayah Indonesia.
Pada periode ini, kondisi kering akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, hingga sebagian Maluku dan Papua.
Ironisnya, kemarau tahun ini diprediksi akan terasa lebih menyengat. Sebanyak 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau dengan sifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya. Hanya sebagian kecil wilayah di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau yang lebih basah (Atas Normal).
Menanggapi ancaman kekeringan yang durasinya diprediksi lebih panjang di 57,2% wilayah Indonesia, BMKG mendesak adanya langkah nyata (Early Action). Sektor pertanian menjadi yang paling krusial untuk melakukan adaptasi.
“Para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air dan tahan kekeringan,” imbau Faisal Fathani.
Selain sektor pangan, sektor energi dan air bersih juga terancam. Pemerintah daerah diminta melakukan revitalisasi waduk demi menjaga operasional PLTA dan ketersediaan air domestik. Tak kalah penting, kewaspadaan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penurunan kualitas udara harus menjadi prioritas di sektor lingkungan.
BMKG menegaskan bahwa informasi ini adalah peringatan dini yang harus diterjemahkan menjadi aksi nyata oleh seluruh pemangku kepentingan guna meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia.







