Kesejahteraan Meningkat: NTP Sulsel Naik Jadi 118,80, Hortikultura Jadi Penyumbang Terbesar

Wamanews.id, 8 Juli 2026 – Kondisi perekonomian masyarakat agraris di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa daya beli petani di kawasan lumbung pangan nasional ini kembali mengalami penguatan pada periode Juni 2026. Indikator utama kesejahteraan tersebut tercermin dari capaian Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan yang menyentuh angka 118,80, naik 0,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 118,30.
Secara statistik, angka NTP yang berada di atas ambang batas 100 menandakan bahwa pendapatan yang diterima oleh para petani dari penjualan komoditas hasil panen masih jauh lebih besar ketimbang total biaya yang harus mereka keluarkan baik untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga harian maupun modal operasional usaha tani. Penguatan NTP Sulawesi Selatan pada bulan ini didorong oleh kinerja positif di tiga dari lima subsektor pertanian utama.
Subsektor hortikultura mencatatkan lompatan pertumbuhan paling signifikan, yakni melambung hingga 4,57 persen. Posisi ini kemudian disusul oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat yang tumbuh sebesar 2,21 persen, serta subsektor perikanan yang mengalami kenaikan tipis 0,27 persen.
Di sisi lain, subsektor tanaman pangan mengalami koreksi sangat tipis sebesar 0,20 persen. Sementara itu,subsektor peternakan mencatatkan penurunan sebesar 2,53 persen jika dibandingkan dengan capaian pada bulan Mei lalu.
Jika dirinci berdasarkan tingkat capaian angka NTP secara absolut, subsektor hortikultura memimpin di posisi puncak dengan angka 150,74. Diikuti oleh tanaman perkebunan rakyat di angka 134,69, perikanan sebesar 121,21, tanaman pangan di level 112,84, serta subsektor peternakan di angka 106,28.
Sejalan dengan NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sulawesi Selatan pada Juni 2026 juga ikut menguat menjadi 124,52, atau tumbuh 0,55 persen. Peningkatan NTUP ini menegaskan bahwa tingkat profitabilitas atau margin keuntungan dari aktivitas usaha pertanian masyarakat Sulsel semakin membaik.
Tabel: Perbandingan NTP per Subsektor di Sulawesi Selatan (Juni 2026)
| Subsektor Pertanian | Capaian Angka NTP | Perubahan Dibanding Mei (%) | Kategori Indikator Ekonomi |
| Hortikultura | 150,74 | +4,57% | Sangat Menguntungkan / Menguat |
| Perkebunan Rakyat | 134,69 | +2,21% | Menguntungkan / Menguat |
| Perikanan | 121,21 | +0,27% | Menguntungkan / Menguat |
| Tanaman Pangan | 112,84 | -0,20% | Menguntungkan / Koreksi Tipis |
| Peternakan | 106,28 | -2,53% | Menguntungkan / Menurun |
Merespons tren positif ini, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Muhammad Taufiq Ratule,mengapresiasi kinerja sektor pertanian Sulsel. Menurutnya, kenaikan NTP menjadi indikator valid membaiknya taraf hidup petani di lapangan.
“Kenaikan NTP sangat signifikan. Artinya pendapatan petani lebih besar daripada pengeluarannya. Semakin tinggi NTP berarti semakin baik tingkat kesejahteraan petani,” tutur Taufiq saat berada di Makassar, Senin (6/7/2026).
Taufiq menambahkan bahwa intervensi pemerintah pusat dalam dua tahun terakhir melalui bantuan benih unggul, alat mesin pertanian (alsintan), hingga perbaikan jaringan irigasi mulai membuahkan hasil nyata dalam menekan biaya produksi yang harus ditanggung petani.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Sulsel, Muhammad Syaripuddin, menegaskan pentingnya menjaga agar angka NTP tidak tergerus fluktuasi harga saat masa panen raya tiba.
“Kalau angkanya di atas 100, berarti penerimaan petani lebih besar dibandingkan pengeluaran yang mereka keluarkan. Capaian 118,80 ini sudah sangat baik karena petani menikmati margin usaha yang positif,” urai Syaripuddin.
Ia menambahkan, strategi kunci untuk mempertahankan tren ini adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga jual di tingkat petani dengan pemberian subsidi sarana produksi. Dengan menekan beban biaya operasional dan menjaga harga hasil panen tetap kompetitif, Sulawesi Selatan dipastikan siap mengukuhkan posisinya sebagai pilar utama penopang swasembada pangan nasional.







