Tekanan Daya Beli: Inflasi Sulsel Tembus 3,56 Persen Dipicu Emas dan Bahan Pangan

Wamanews.id, 6 Juli 2026 – Tekanan terhadap daya beli masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) tampaknya masih belum mereda. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan secara resmi merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) di wilayah ini menyentuh angka 3,56 persen pada periode Juni 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertengger di level 112,06.
Membengkaknya grafik inflasi ini utamanya dipicu oleh lonjakan biaya yang signifikan pada hampir seluruh lini kelompok pengeluaran rumah tangga. Sektor perawatan pribadi, kelompok bahan pangan, serta akomodasi transportasi menjadi motor utama yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa di pasaran secara simultan.
Pemantauan fluktuasi harga yang dilakukan oleh BPS Sulsel tersebar secara representatif di delapan kabupaten dan kota utama. Dari delapan wilayah acuan tersebut, rapor dinamika inflasi menunjukkan angka yang cukup variatif antar-daerah.
Kabupaten Luwu Timur mencatatkan diri sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di Sulsel, yakni menembus angka 4,32 persen dengan capaian IHK sebesar 113,76. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang relatif lebih stabil berada di Kabupaten Bulukumba yang sukses menekan laju inflasi di angka paling rendah, yakni sebesar 2,57 persen dengan tingkat IHK berada pada posisi 110,54.
Tabel: Angka Inflasi Tahunan (y-on-y) 8 Kabupaten/Kota di Sulsel (Juni 2026)
| Peringkat Daerah | Wilayah Pemantauan | Tingkat Inflasi (y-on-y) | Capaian Indeks Harga Konsumen (IHK) |
| Tertinggi | Kabupaten Luwu Timur | 4,32% | 113,76 |
| Menengah | Makassar, Parepare, Palopo, Wajo, Watampone, Sidrap | Variatif | Sesuai Bobot Sektoral |
| Terendah | Kabupaten Bulukumba | 2,57% | 110,54 |
Secara sektoral, jika membedah kelompok pengeluaran masyarakat, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan lonjakan yang paling drastis dengan angka inflasi tahunan menyentuh 10,48 persen. Berdasarkan analisis komoditas, emas perhiasan menjadi komoditas tunggal yang memberikan andil atau sumbangan inflasi terbesar bagi Sulsel, yaitu mencapai 0,77 persen.
Selain emas perhiasan, sektor makanan, minuman, dan tembakau ikut andil besar dengan sumbangan inflasi sebesar 5,69 persen. Beberapa komoditas pangan harian yang harganya terpantau merangkak naik antara lain:
- Ikan layang (ikan benggol)
- Tomat dan cabai rawit
- Daging ayam ras dan telur
- Minyak goreng, beras, serta bawang merah
Kenaikan berkala juga membayangi sektor transportasi sebesar 2,57 persen serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,10 persen. Di tengah gempuran kenaikan harga tersebut, hanya sektor pakaian dan alas kaki yang mencatatkan tren positif bagi kantong konsumen berupa deflasi sebesar 0,42 persen.
Tidak hanya dihitung secara tahunan, BPS Sulsel juga melaporkan adanya pergerakan inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,36 persen selama bulan Juni 2026. Peningkatan jangka pendek ini banyak dipengaruhi oleh penyesuaian harga bensin, tarif angkutan udara, telepon seluler, pelumas mesin, hingga penyesuaian tarif air minum bersih.
Secara kumulatif, angka inflasi year to date (y-to-d) atau sepanjang tahun berjalan hingga Juni 2026 di Sulawesi Selatan kini berada pada posisi 2,54 persen. Melihat tren data ini, kestabilan harga kebutuhan bahan pokok dan pengelolaan sektor energi di tingkat regional perlu menjadi fokus utama koordinasi TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) guna menjaga agar daya beli riil masyarakat tidak kian tergerus di paruh kedua tahun ini.







