Tragis! Tunggu Uang Panai, Rumah Calon Suami di Jeneponto Malah Hancur

Wamanews.id, 6 April 2025 – Harusnya jadi malam penuh kebahagiaan, namun yang terjadi justru tragedi. Sebuah rumah di Dusun Embo, Desa Turatea, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, hancur diserang oleh sekelompok orang yang merupakan keluarga calon pengantin wanita, Sabtu malam (5/4/2025). Penyebabnya: uang panai yang tak kunjung diserahkan sesuai jadwal.
Insiden ini memunculkan kembali polemik lama soal adat dan ekspektasi dalam pernikahan, terutama di wilayah Sulawesi Selatan di mana uang panai dianggap sebagai simbol tanggung jawab dan harga diri.
Kapolsek Tamalatea, AKP Suardi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut rumah milik Darma orang tua calon mempelai pria bernama Miko dirusak sekitar pukul 21.30 WITA, saat rumah dalam keadaan kosong.
“Menurut keterangan pihak perempuan, jadwal penyerahan uang panai seharusnya dilakukan kemarin. Tapi pihak laki-laki tidak datang sesuai kesepakatan,” ujar Suardi saat dihubungi, Minggu (6/4/2025).
Akibat ketidakhadiran Miko dan keluarganya, yang seharusnya datang membawa uang panai dan seserahan, situasi menjadi tegang. Ketidaktepatan waktu tersebut dianggap melanggar adat dan mencoreng kehormatan pihak perempuan, hingga akhirnya memicu emosi yang tak terbendung.
Video detik-detik penyerangan beredar luas di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Facebook bernama Citra Erang. Dalam video itu terdengar jelas suara teriakan, lemparan benda keras, dan suara perempuan yang menyayat hati.
“Rumahnya sudah hancur, telepon saja keluargamu, rumahnya sudah hancur,” terdengar dalam video dengan dialek khas Jeneponto.
Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini karena rumah dalam keadaan kosong. Namun, kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Bagian atap dan dinding rumah tampak roboh, perabot rumah tangga berserakan, dan suasana penuh kepanikan menyelimuti malam itu.
Dalam unggahannya, Citra menuliskan:
“Melamar tidak punya uang, nda ada uang panaikna. Tidak sanggup, alhasil dimassa,”
menandakan bahwa uang panai masih dianggap sangat krusial dalam pernikahan adat Bugis-Makassar.
Sebagai informasi, uang panai dalam budaya Bugis dan Makassar bukan hanya soal nominal. Ia adalah lambang keseriusan, penghargaan terhadap keluarga mempelai perempuan, dan sering kali menjadi tolak ukur kelayakan calon suami. Nilainya bisa sangat tinggi, tergantung latar belakang keluarga, status sosial, dan pendidikan sang calon istri.
Kini, Darma telah melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Tamalatea, dengan harapan ada proses hukum yang bisa memberikan keadilan. Polisi sendiri masih mendalami motif, saksi, dan kemungkinan penyelesaian secara adat ataupun hukum positif.
Kisah ini menyisakan banyak pertanyaan. Apakah cinta bisa bertahan di tengah tekanan adat dan ekspektasi sosial yang tinggi? Apakah sebuah pernikahan bisa dianggap gagal hanya karena keterlambatan penyerahan uang panai?
Yang jelas, peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa di balik romantisme pernikahan tradisional, masih banyak dinamika sosial dan budaya yang butuh pemahaman serta komunikasi yang kuat. Tanpa itu, cinta bisa hancur bahkan sebelum janur kuning berdiri.







