
Wamanews.id, 19 Januari 2026 – Ketegangan dan rasa was-was menyelimuti area Greeters MeetersBandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Minggu sore (18/1/2026). Sejumlah anggota keluarga korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport mulai berdatangan untuk mencari informasi valid mengenai nasib kerabat mereka yang menjadi penumpang dalam penerbangan nahas rute Yogyakarta-Makassar tersebut.
Hingga pukul 15.11 Wita, suasana di ruang tunggu khusus yang disediakan oleh otoritas bandara terpantau sangat hening. Meski pihak bandara telah menyediakan berbagai fasilitas penunjang, termasuk jamuan minuman hangat untuk memberikan sedikit ketenangan, raut wajah duka dan ketidakpastian tidak dapat disembunyikan dari para keluarga yang hadir.
Di dalam ruangan, para keluarga korban tampak duduk bersandar, sebagian tertunduk lesu sambil sesekali mengusap air mata. Komunikasi di antara mereka berlangsung sangat terbatas; hanya sesekali terdengar bisikan lirih antarsanak famili yang saling menguatkan.
Kesedihan semakin terasa saat informasi mengenai perkembangan pencarian di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, mulai masuk secara perlahan melalui pusat informasi. Kehadiran petugas dari maskapai dan otoritas bandara yang terus bersiaga belum mampu sepenuhnya menghapus kecemasan yang mendalam.
Untuk menangani trauma dan guncangan psikologis yang dialami keluarga, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan telah menerjunkan tim psikolog di lokasi. Layanan pendampingan psikologi ini tersedia bagi siapa saja anggota keluarga yang membutuhkan teman bicara atau penanganan khusus akibat guncangan emosional pascabencana.
Di tengah penantian yang panjang, kabar memilukan akhirnya dikonfirmasi oleh Tim SAR Gabungan. Satu orang korban berhasil ditemukan di sekitar titik jatuhnya pesawat di kawasan pegunungan karst Maros-Pangkep. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa satu korban tersebut ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
“Telah ditemukan satu korban dengan jenis kelamin laki-laki dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Muhammad Arif Anwar dalam keterangan resminya kepada media.
Korban pertama ini berhasil diidentifikasi keberadaannya sekitar pukul 14.20 Wita. Lokasi penemuan berada pada koordinat 04°54′ 44″S dan 119° 44′ 48″. Yang memprihatinkan, posisi jasad korban ditemukan di sebuah jurang terjal dengan kedalaman kurang lebih 200 meter, tidak jauh dari serpihan utama badan pesawat ATR 42-500.
“Korban berada di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan posisinya berada di sekitar sebaran serpihan pesawat,” tambah Arif menjelaskan sulitnya medan yang dihadapi tim di lapangan.
Meskipun satu korban telah ditemukan, proses evakuasi dari dasar jurang menuju titik jemput helikopter atau jalur darat masih terus berlangsung. Tingkat kemiringan medan dan kondisi cuaca di lereng Gunung Bulusaraung menjadi tantangan utama yang harus ditaklukkan oleh personel SAR.
Muhammad Arif Anwar menegaskan bahwa operasi SAR akan terus diintensifkan hingga seluruh penumpang dan kru pesawat dapat ditemukan. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa keselamatan personel tim gabungan tetap menjadi prioritas utama di tengah medan yang berisiko tinggi tersebut.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur. Setiap langkah yang kami ambil di lapangan didasarkan pada analisis risiko yang ketat. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi dan pencarian sisa korban lainnya dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti,” pungkasnya.
Hingga saat ini, Tim DVI (Disaster Victim Identification) Polda Sulsel telah bersiap untuk melakukan proses identifikasi segera setelah jenazah korban berhasil diturunkan dari lokasi kejadian. Fokus pencarian saat ini tetap diarahkan pada area sekitar jatuhnya pesawat, dengan harapan korban-korban lain dapat segera ditemukan untuk memberikan kepastian bagi pihak keluarga yang tengah menanti di Bandara Sultan Hasanuddin.







