Mapparola, Tradisi Pernikahan Bugis yang Eratkan Dua Keluarga

Wamanews.id, 28 Oktober 2026 -Pernikahan selalu menghadirkan cerita tentang dua insan yang memulai perjalanan baru. Kebahagiaan itu tidak hanya dirayakan oleh kedua mempelai, tetapi juga menjadi momen bagi dua keluarga untuk saling mengenal, mendekat, dan merajut ikatan kekeluargaan.
Suku bugis dikenal memiliki beragam tradisi yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam rangkaian pernikahan. Setiap tahapan pernikahan tidak hanya menjadi bagian dari upacara, tetapi juga mencerminkan hubungan kekeluargaan dan nilai sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu tradisi yang dikenal dalam pernikahan adat Bugis adalah Mapparola. Mapparola merupakan prosesi ketika pengantin perempuan bersama pengantin laki-laki berkunjung ke rumah keluarga pihak laki-laki setelah akad nikah.
Setibanya di rumah keluarga pihak laki-laki, kedua pengantin akan disambut oleh anggota keluarga dan mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan. Dalam prosesi ini, mempelai wanita biasanya membawa seserahan berupa perlengkapan pribadi serta kue-kue tradisional untuk mempelai pria.
Maparola juga menjadi simbol penerimaan mempelai wanita oleh keluarga pihak laki-laki sekaligus mempererat hubungan antara kedua keluarga.
Mapparola tidak hanya berkaitan dengan rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga memiliki nilai sosial dalam hubungan antarkeluargaKunjungan pengantin ke rumah keluarga pihak laki-laki menjadi kesempatan bagi kedua keluarga untuk berkumpul dan membangun hubungan yang lebih dekat setelah pernikahan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan dalam masyarakat Bugis tidak hanya melibatkan dua orang yang membangun rumah tangga, tetapi juga mempertemukan dua keluarga besar.
Melalui tradisi seperti Mapparola, hubungan kekeluargaan memperoleh ruang untuk diperkuat. Inilah salah satu alasan tradisi tersebut penting untuk dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Bugis.Penulis: Masdiana







