Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Budaya

Mengenal Mattampung, Tradisi Bugis Setelah Kematian

Wamanews.id, 14 Oktober 2026 – Dalam tradisi masyarakat suku Bugis, penghormatan kepada orang yang telah meninggal tidak berhenti pada proses pemakaman. Ada tradisi yang kembali mempertemukan keluarga dan masyarakat dalam suasana doa dan kebersamaan. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Mattampung, sebuah warisan budaya yang berkaitan dengan rangkaian acara setelah kematian.

Di balik pelaksanaannya, Mattampung menyimpan makna penghormatan kepada mereka yang telah berpulang sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan dan hubungan sosial di tengah masyarakat. Tradisi ini juga mencerminkan tanggung jawab keluarga dalam mendoakan dan mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Dalam pelaksanaan Mattampung, salah satu hal yang dilakukan adalah memperbaiki makam keluarga yang telah meninggal, termasuk memasang atau mengganti batu nisan agar kondisinya lebih baik. Tradisi Mattampung boleh dilaksanakan kapan saja, apabila pihak keluarga sudah merasa sanggup. Bisa dilaksanakan pada hari ke-3, ke-7, ke-40, dan ke-100, bahkan setelah 1 tahun atau pada tahun-tahun berikutnya.

Pelaksanaannya menjadi kesempatan bagi keluarga untuk memanjatkan doa bagi almarhum atau almarhumah. Masyarakat yang melaksanakannya juga berharap agar doa dan amal yang diniatkan dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah berpulang.

Dalam rangkaian tradisi Mattampung, penyembelihan hewan seperti sapi atau kambing juga menjadi salah satu bagian dari pelaksanaannya. Daging hewan kemudian diolah beserta lauk-pauk lainnya untuk disantap bersama. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk berbagi dan bersedekah yang diniatkan sebagai amal bagi almarhum atau almarhumah.

Sebelum acara berlangsung, keluarga terlebih dahulu mempersiapkan berbagai keperluan, termasuk mengundang kerabat dan tetangga. Dalam masyarakat Bugis, kegiatan mengundang secara lisan dari rumah ke rumah dikenal dengan istilah madduppa. Orang yang bertugas menyampaikan undangan tersebut disebut padduppa. Cara ini bertujuan menyampaikan undangan secara langsung sekaligus menjaga hubungan baik dengan tetangga dan kerabat.

Malam sebelum hari pelaksaan Mattampung, keluarga dan para tamu yang diundang mulai berdatangan. Para laki-laki mengenakan kopiah, sedangkan perempuan hadir dengan pakaian yang menutup aurat. Malam ini diisi dengan pembacaan Surah Yasin dan pattemme’ Qur’ang, yaitu prosesi mengkhatamkan Al-Qur’an. Setelah rangkaian pembacaan selesai, para tamu disuguhi aneka kue tradisional yang disajikan di atas baki. Suasana tersebut menjadi bagian dari kebersamaan keluarga dan masyarakat yang hadir untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

Pada pagi hari pelaksanaan Mattampung, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan barazanji. Setelah itu, pihak keluarga menuju pemakaman untuk mengganti atau memperbaiki nisan makam almarhum atau almarhumah. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penghormatan keluarga terhadap mendiang.

Sementara itu, hidangan yang telah dipersiapkan, termasuk daging sapi atau kaming yang disembelih sebelumnya, disajikan bersama lauk-pauk lainnya di atas baki. Setelah pembacaan doa selesai, para tamu dipersilakan menyantap hidangan yang tersedia. Momen makan bersama ini mencerminkan nilai berbagi dan kebersamaan yang terjalin di antara keluarga dan masyarakat.

Hingga kini, tradisi Mattampung masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Bugis sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Di samping nilai religius yang terkandung di dalamnya, tradisi ini juga menjadi ruang bagi keluarga dan masyarakat untuk berkumpul, saling membantu, serta mempererat tali silaturahmi.

Mattampung menggambarkan penghormatan kepada mereka yang telah berpulang tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui kebersamaan dan kepedulian antarsesama. Sebagai bagian dari warisan budaya Bugis, tradisi ini menyimpan nilai kekeluargaan dan sosial yang penting untuk terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.Penulis : Masdiana

Penulis

Related Articles

Back to top button