Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Budaya

Maccera Ase : Makna Syukur yang Terus Hidup dalam Budaya Bugis

Wamanews.id, 21 Oktober 2026 – Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil padi di Indonesia yang memiliki peran penting dalam sektor pertanian. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan, produksi padi di wilayah ini pada 2025 mencapai sekitar 5,47 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan luas panen mencapai 1,04 juta hektare. Data tersebut menggambarkan besarnya peran pertanian padi dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Bagi sebagian masyarakat Bugis yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, padi tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga berkaitan erat dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai ritual dikenal dalam tahapan pertanian, mulai dari sebelum musim tanam hingga setelah panen. Salah satunya adalah Maccera Ase, tradisi yang menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi.

Maccera Ase merupakan tradisi masyarakat Bugis yang dilaksanakan setelah panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. atas rezeki dan keselamatan selama bertani. Ungkapan syukur tersebut diwujudkan melalui doa bersama yang dikenal dengan istilah mabbaca doang. Selain menjadi bagian dari praktik adat, tradisi ini juga mencerminkan hubungan antara kehidupan pertanian, kepercayaan, dan kebersamaan dalam masyarakat.

Tradisi ini umumnya dilaksanakan di rumah petani setelah panen padi. Pelaksanaannya melibatkan keluarga dan orang-orang terdekat, termasuk tetangga serta sesama petani. Sebelum ritual berlangsung, keluarga menentukan waktu pelaksanaan dan mempersiapkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan. Sejumlah sajian, seperti ayam, sokko atau nasi ketan, kelapa muda, dan pisang, turut disiapkan untuk keperluan ritual.

Tahap utama Maccera Ase adalah mabbaca doang, yaitu pembacaan doa sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh. Dalam praktiknya masyarakat, ayam disembelih dan darahnya diletakkan di posi bola, yakni tiang pusat rumah. Prosesi ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian tradisi. Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan yang telah disiapkan dinikmati bersama keluarga dan orang-orang yang hadir.

Selain tahapan pelaksanaannya, Maccera Ase memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan harapan Masyarakat. Penyembelihan ayam dimaknai sebagai bentuk pengorbanan. Darah ayam yang diletakkan di posi bola menjadi penanda bahwa ritual telah dilaksanakan dan dikaitkan dengan harapan akan keselamatan keluarga. Sementara itu, sokko dimaknai sebagai permohonan keselamatan dan perlindungan bagi hasil panen. Kelapa muda melambangkan harapan agar rezeki yang diperoleh bersih dan halal serta mengalir sejernih air kelapa.

Pisang menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa untuk keberkahan rezeki, sedangkan hidangan ayam dikaitkan dengan harapan memperoleh umur panjang. Maccera Ase juga memiliki nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial. Persiapan hingga pelaksanaan tradisi menjadi kesempatan bagi keluarga, tetangga, dan sesama petani untuk saling berinteraksi. Kegiatan makan bersama turut mempererat silaturahmi, sementara keterlibatan orang-orang terdekat mencerminkan pentingnya hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Maccera Ase menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Bugis memaknai hasil panen tidak hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Tradisi ini mencerminkan nilai rasa syukur, harapan akan keberkahan, dan kebersamaan yang diwariskan antargenerasi.

Penulis

Related Articles

Back to top button