Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Godzilla El Nino Mengintai! BRIN Prediksi Kemarau Ekstrem April-Oktober 2026

Wamanews.id, 24 Maret 2026 – Alam nampaknya sedang tidak dalam kondisi “baik-baik saja” di tahun 2026 ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja merilis peringatan serius terkait munculnya fenomena iklim yang mereka sebut sebagai “Godzilla” El Nino. Fenomena ini diprediksi akan menyapa wilayah Indonesia mulai April hingga Oktober 2026, membawa dampak anomali cuaca yang kontradiktif namun sama-sama berbahaya di berbagai wilayah Nusantara.

Istilah “Godzilla” sendiri merujuk pada intensitas El Nino yang sangat kuat dan berskala besar. Yang membuatnya semakin mengkhawatirkan adalah hadirnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif secara bersamaan. Duet maut fenomena atmosfer ini diperkirakan akan menciptakan kondisi musim kemarau yang jauh lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering dari biasanya.

Menurut keterangan resmi BRIN, fenomena El Nino menyebabkan konsentrasi pembentukan awan dan hujan justru berpindah ke atas Samudra Pasifik. Akibatnya, wilayah Indonesia mengalami defisit awan yang signifikan. Di sisi lain, IOD Positif di Samudra Hindia memicu pendinginan suhu permukaan laut di dekat Pulau Jawa dan Sumatra.

Kombinasi ini bak “mengunci” kelembapan udara agar tidak masuk ke daratan Indonesia. Berdasarkan model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, periode April hingga Juli 2026 akan menjadi masa paling kritis bagi wilayah Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kemarau akan bersifat sangat ekstrem.

Menariknya, dampak “Godzilla” El Nino ini tidak seragam di seluruh Indonesia. Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa saat wilayah Jawa terpanggang kekeringan, wilayah timur Indonesia justru menghadapi ancaman yang berbeda.

“Untuk wilayah di Sulawesi, Halmahera, dan sebagian besar Maluku, data menunjukkan masih akan mengalami curah hujan yang tinggi. Ini adalah anomali yang harus diwaspadai,” ungkap Erma.

Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah lumbung pangan dan wilayah pesisir, peringatan ini menjadi sinyal merah. Sementara saudara kita di Jawa bersiap menghadapi kekeringan, warga Sulawesi justru harus memperkuat mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor akibat curah hujan yang tak terduga.

BRIN mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah preventif guna melindungi sektor-sektor strategis. Ada tiga ancaman utama yang membayangi periode April-Oktober 2026 ini:

  • Ancaman Lumbung Pangan: Wilayah Pantura Jawa terancam kekeringan hebat yang dapat melumpuhkan produksi beras nasional.
  • Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Wilayah Sumatra dan Kalimantan diprediksi akan menjadi titik api jika mitigasi pencegahan tidak dilakukan sejak dini.
  • Bencana Hidrometeorologi: Wilayah Sulawesi dan Maluku harus bersiap menangani kelebihan curah hujan yang dapat memicu banjir pemukiman dan kerusakan infrastruktur.

“Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan di Pantura, namun di saat yang bersamaan, juga harus menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi dan Maluku,” tegas Erma Yulihastin.

Dengan kondisi cuaca yang diprediksi tidak menentu, masyarakat diimbau untuk mulai beradaptasi. Bagi warga di daerah potensi kering, penggunaan air harus dilakukan secara bijak dan hemat. Sementara bagi warga di wilayah Sulawesi, pembersihan saluran drainase dan pemantauan dini terhadap lereng-lereng rawan longsor harus menjadi prioritas sebelum memasuki puncak anomali di bulan April.

“Godzilla” El Nino mungkin terdengar seperti nama monster dalam film fiksi, namun dampaknya di tahun 2026 ini adalah ancaman nyata yang menuntut kesiapsiagaan kita semua. Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan data dan tindakan cepat.

Penulis

Related Articles

Back to top button