Kemarau Tapi Kok Masih Hujan? BMKG Bongkar Alasan di Balik Ancaman ‘El Nino Godzilla’

Wamanews.id, 9 April 2026 – Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia saat ini tengah dibuat bingung oleh kondisi cuaca yang tidak menentu. Meskipun secara kalender tahunan Indonesia seharusnya sudah memasuki musim kemarau, namun intensitas hujan lebat hingga sangat lebat masih sering mengguyur di beberapa daerah.
Fenomena “kemarau basah” ini memicu tanda tanya besar: apakah musim memang bergeser, ataukah ada anomali atmosfer yang sedang terjadi?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan teknis untuk meluruskan kesimpangsiuran informasi ini. Ternyata, selain masa transisi, Indonesia juga tengah bersiap menghadapi fenomena iklim besar yang dijuluki sebagai “El Nino Godzilla”.
Salah satu alasan utama mengapa hujan masih sering turun adalah karena transisi musim belum terjadi secara serentak di seluruh nusantara. Berdasarkan data terbaru BMKG, baru sekitar 7 persen dari total Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang secara resmi telah beralih ke musim kemarau.
Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa pancaroba atau peralihan. Pada masa ini, karakteristik cuaca memang cenderung ekstrem, di mana cuaca panas terik di siang hari dapat berubah menjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang secara tiba-tiba pada sore atau malam hari.
Hal yang paling mengkhawatirkan dari laporan BMKG adalah prediksi kembalinya fenomena El Nino dalam skala yang cukup besar pada semester kedua tahun 2026. Fenomena ini sering dijuluki “Godzilla” karena skalanya yang diprediksi masif dan memiliki durasi yang berkepanjangan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa peluang berkembangnya El Nino pada paruh kedua tahun ini mencapai 50 hingga 80 persen.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen. Kami juga mencatat adanya kemungkinan kecil, yakni kurang dari 20 persen, fenomena ini bisa berkembang menjadi kategori kuat,” ujar Ardhasena dikutip dari keterangan resmi BMKG.
Meskipun saat ini statusnya masih dalam fase Netral, tren menuju El Nino mulai terlihat menguat. Jika kategori ini meningkat menjadi moderat atau kuat, Indonesia harus bersiap menghadapi ancaman kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan di masa mendatang.
4 Faktor Utama Mengapa Hujan Masih Sering Turun
Meskipun ancaman El Nino mulai mengintai, BMKG menjelaskan ada beberapa faktor regional dan lokal yang menyebabkan hujan tetap turun dengan intensitas tinggi saat ini:
| Faktor Cuaca | Penjelasan Teknis |
| Fase ENSO Netral | Kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini belum sepenuhnya mempengaruhi cuaca di Indonesia, sehingga hujan lokal masih dominan. |
| Aktivitas MJO | Adanya gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia. |
| Suhu Laut Hangat | Suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih cukup hangat, memicu penguapan dan pembentukan awan hujan. |
| Kelembapan Tinggi | Kadar uap air dalam udara masih berada pada level yang cukup tinggi, memudahkan terjadinya hujan lebat. |
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Meskipun hujan masih turun, tren menuju musim kering yang panjang sudah mulai terbentuk. Perpaduan antara masa transisi dan potensi El Nino Godzilla menuntut kesiapan masyarakat dalam menjaga ketersediaan air bersih serta mewaspadai potensi penyakit di masa pancaroba.
Selain itu, para petani juga disarankan untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG agar dapat menyesuaikan pola tanam. Kondisi “kemarau tapi hujan” ini memang menantang, namun dengan pemahaman terhadap dinamika atmosfer, masyarakat diharapkan dapat memitigasi dampak buruk yang mungkin timbul.
“Fenomena El Nino Godzilla ini bukan sekadar nama, tapi pengingat bahwa perubahan iklim global sedang terjadi dan kita harus siap menghadapinya secara kolektif,” pungkas pihak BMKG melalui kanal media sosial resminya.







