Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Bukan Genetik Semata, Rendahnya Protein Hewani Jadi Penyebab Utama Postur Pendek Orang Indonesia

Wamanews.id, 31 Oktober 2026 – Anggapan bahwa orang Indonesia bertubuh pendek karena faktor keturunan mutlak terbantahkan. Riset global terbaru mengungkap, genetik bukanlah penentu utama tinggi badan, melainkan asupan protein hewani selama masa pertumbuhan.

Banyak yang percaya tinggi badan sudah ditakdirkan dari lahir. Namun temuan dari NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC), sebuah jaringan riset kesehatan global yang menganalisis tren tinggi badan di 200 negara, menunjukkan fakta berbeda.

Data NCD-RisC mencatat rata-rata tinggi pria Belanda mencapai 182,5 sentimeter dan pria Amerika Serikat 177 sentimeter. Sementara itu, rata-rata pria Indonesia hanya berada di angka 163,6 sentimeter, yang menjadikan Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan postur terpendek di dunia.

Menurut riset tersebut, pengaruh genetik hanya menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen terhadap tinggi badan akhir seseorang. Sisanya sebesar 70 hingga 80 persen justru ditentukan oleh faktor nutrisi dan lingkungan, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan hingga pubertas selesai.

Kunci utama yang menjelaskan “jarak postur” antara orang Barat dan Indonesia terletak pada konsumsi animal protein. Di Amerika Serikat dan Eropa, konsumsi daging, ayam, telur, dan susu berada di angka sangat tinggi setiap harinya.

Data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi dan Badan Pangan Dunia atau OECD/FAO tahun 2023 mencatat, warga AS mengonsumsi lebih dari 100 kilogram daging per kapita per tahun. Asam amino esensial lengkap dari protein hewani inilah yang menjadi pemicu utama Human Growth Hormone (HGH) bekerja optimal untuk memaksimalkan pertumbuhan tulang linier.

Realitas di meja makan Indonesia justru sebaliknya. Budaya makan masih menempatkan karbohidrat sebagai segalanya. Prinsip “belum makan kalau belum ada nasi” masih kuat, bahkan tidak jarang terjadi kombinasi karbohidrat dengan karbohidrat lain seperti nasi dengan mi instan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi daging sapi nasional masih sangat minim, hanya sekitar 2,7 kilogram per kapita per tahun. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan negara maju dan menunjukkan ketimpangan asupan gizi.

Para ahli menegaskan, mengandalkan tahu dan tempe saja tidak cukup. Tempe memang dikenal sebagai superfood sumber protein nabati, namun profil asam amino esensialnya tidak selengkap protein hewani seperti telur, ikan, dan daging, yang spesifik dibutuhkan tubuh untuk mendorong tinggi badan anak.

Kurangnya protein hewani sejak balita bukan hanya berdampak pada postur pendek, tapi berujung pada stunting. Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi stunting nasional masih di angka 21,5 persen pada tahun 2023. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif otak dan daya saing generasi mendatang.

Solusinya dinilai tidak harus mahal. Para pakar gizi mendorong masyarakat untuk menggandakan porsi telur, ikan lokal seperti lele, kembung, dan tongkol, serta ayam. Mengurangi porsi nasi dan memperbanyak lauk menjadi langkah sederhana. Investasi nutrisi ini harus dimulai sejak anak masih di dalam kandungan hingga masa pubertas berakhir.

Penulis

Related Articles

Back to top button