Misi ‘Sapu Bersih’ Tuntas: Basarnas Resmi Tutup Operasi SAR Pesawat PK-THT di Gunung Bulusaraung

Wamanews.id, 24 Januari 2026 – Setelah menempuh tujuh hari pencarian yang penuh tantangan di medan berat, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) akhirnya resmi menutup operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT.
Pesawat tersebut sebelumnya dinyatakan jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Keputusan penutupan operasi ini diambil setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seluruh korban yang berjumlah 10 orang.
Kabasarnas Marsdya Mohammad Syafii secara langsung memimpin konferensi pers penutupan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar pada Jumat (23/1/2026) malam.
“Pada malam hari ini saya selaku Kepala Badan SAR Nasional menyatakan bahwa operasi pencarian dan evakuasi terhadap kecelakaan pesawat PK-THT saya nyatakan selesai,” tegas Marsdya Syafii di hadapan awak media.
Masa pencarian mencapai puncaknya pada hari ketujuh, di mana tim gabungan menerapkan sandi operasi “Sapu Bersih”. Cuaca yang bersahabat pada Jumat pagi menjadi faktor kunci keberhasilan tim mencapai titik-titik sulit di lereng gunung.
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, mengonfirmasi bahwa seluruh manifest penumpang dan kru yang berjumlah 10 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dua korban terakhir ditemukan dalam dua paket jenazah pada pukul 08.33 WITA dan 09.16 WITA.
Hingga saat ini, tim DVI Polri telah berhasil mengidentifikasi tiga korban melalui sidik jari, di antaranya:
- Deden Maulana (43): Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
- Florencia Lolita Wibisono (33): Pramugari.
- Esther Aprilita S (26): Pramugari.
Kapolda Sulsel, Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, menjelaskan bahwa pihaknya menerima total 11 kantong jenazah (body bag). Perbedaan jumlah kantong dengan manifes (10 orang) disebabkan karena adanya kantong yang berisi potongan tubuh (body part). Tim DVI akan bekerja secara saintifik untuk memastikan seluruh temuan selaras dengan identitas korban di manifes.
Meski operasi pencarian korban telah berakhir, proses investigasi penyebab kecelakaan baru saja dimulai. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah berhasil mengamankan black box(kotak hitam) yang menjadi kunci utama pengungkapan misteri jatuhnya pesawat buatan tahun 2000 tersebut.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyebutkan bahwa insiden ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain(CFIT). Artinya, pesawat dalam kondisi dapat dikendalikan penuh oleh pilot, namun menabrak rintangan alam (lereng gunung) tanpa ada unsur kesengajaan.
“Pesawatnya masih dalam kontrol oleh pilotnya, tidak ada masalah untuk kendali, tapi menabrak lereng. Kami butuh waktu sekitar 5 hingga 10 hari untuk mengunduh dan menganalisis data dari kotak hitam guna verifikasi lebih lanjut,” jelas Soerjanto.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT awalnya terbang dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Sabtu (17/1). Sekitar pukul 04.23 UTC, saat sedang dalam prosedur pendekatan (approach) ke landasan pacu RWY 21, pesawat terdeteksi keluar dari jalur yang seharusnya.
Pihak Air Traffic Control (ATC) Makassar sempat memberikan instruksi koreksi posisi, namun komunikasi terputus sesaat kemudian. Kondisi ini memicu fase darurat DETRESFA (Distress Phase) yang kemudian menggerakkan operasi SAR besar-besaran di wilayah pegunungan Pangkep.
Dengan berakhirnya operasi gabungan, Basarnas Makassar akan tetap melakukan operasi kesiapsiagaan rutin. Jika di kemudian hari ditemukan sisa potongan tubuh atau serpihan pesawat oleh warga sekitar, Basarnas berkomitmen untuk segera melakukan evakuasi lanjutan.
Terkait sisa bangkai pesawat di Gunung Bulusaraung, Marsdya Syafii menyebutkan bahwa evakuasi serpihan besar hanya akan dilakukan jika ada permintaan khusus dari KNKT untuk kebutuhan investigasi mendalam.







