Pinrang Jadi Pelopor Kemandirian Pangan MBG, Desa Kaballangan Panen Ratusan Kilo Bawang Merah

Wamanews.id, 11 Mei 2026 – Kabupaten Pinrang kembali membuktikan taji sebagai daerah agraris yang inovatif. Kali ini, Bumi Lasinrang menunjukkan langkah nyata dalam mendukung Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui strategi kemandirian pangan berbasis desa. Tidak hanya menjadi penyalur, Pinrang kini mulai memproduksi sendiri kebutuhan bahan baku dapur MBG dari lahan-lahan pertanian lokal.
Terobosan strategis ini lahir dari sebuah gagasan sederhana: memaksimalkan potensi tanah daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal tanpa harus bergantung pada pasokan luar. Sinergi ini diwujudkan melalui kolaborasi apik antara Satgas MBG Pinrang, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah desa, serta mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Bukti nyata dari keberhasilan pola ini terlihat di Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua. Di atas lahan percontohan seluas 30 are, petani lokal berhasil membuktikan kualitas tanah Pinrang. Dari tujuh bedeng awal yang ditanami bawang merah, dihasilkan panen sebanyak 218 kilogram bawang merah grade A.
Hasil panen perdana pada Sabtu (10/5/2026) tersebut langsung diserap seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di wilayah sekitar. Hal ini menjadi simbol kuat bahwa desa mampu menjadi aktor utama dalam rantai pasok pangan nasional, sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Selama ini, sebagian besar kebutuhan bahan baku dapur MBG masih didatangkan dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi dari program nasional ini belum sepenuhnya dirasakan oleh petani lokal. Menyadari hal tersebut, Ketua Satgas MBG Pinrang, Andi Tjalo Kerrang, bersama Korwil BGN Pinrang, Nining Angreani, merancang ekosistem pemberdayaan petani.
“Kalau kebutuhan dapur bisa dipenuhi petani lokal, kenapa harus terus bergantung pada pasokan dari luar daerah? Inilah yang ingin kami bangun,” tegas Andi Tjalo Kerrang.
Proses budidaya ini melibatkan gotong royong yang intensif. Mulai dari penyediaan bibit berkualitas, pupuk, plastik mulsa, hingga pembangunan infrastruktur air berupa sumur bor disiapkan secara kolektif. Anwar (56), petani yang mengelola lahan tersebut, mengaku sangat terbantu dengan adanya kepastian pasar.
“Bawangnya besar, padat, dan warnanya merah cerah. Sekarang kami menanam dengan tenang karena hasil panen sudah pasti ada yang menyerap, yaitu SPPG untuk kebutuhan dapur MBG,” kata Anwar dengan bangga.
Tabel: Proyeksi Pengembangan Pertanian Lokal MBG Pinrang
| Komoditas | Status Lahan | Kapasitas Panen | Target Penyerapan |
| Bawang Merah | Perluasan ke 20 Bedeng | 218 Kg (Panen Perdana) | Dapur MBG Wilayah Duampanua |
| Kangkung | Tahap Persiapan Lahan | Proyeksi Mingguan | Mitra SPPG Lokal |
| Buncis | Tahap Persiapan Lahan | Proyeksi Bulanan | Kebutuhan Sayur Bergizi |
| Semangka | Tahap Persiapan Lahan | Proyeksi Musiman | Kebutuhan Buah Pencuci Mulut |
Koordinator Wilayah BGN Pinrang, Nining Angreani, menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Desa Kaballangan hanyalah awal dari visi yang lebih besar. Saat ini, lahan yang semula hanya tujuh bedeng telah diperluas dengan penambahan 13 bedeng baru guna meningkatkan kapasitas produksi.
“Yang kami bangun bukan hanya kebun bawang merah, tetapi sebuah ekosistem pangan lokal untuk mendukung MBG. Program ini menciptakan siklus ekonomi baru di tingkat desa,” jelas Nining. Selain bawang, pengembangan komoditas lain seperti kangkung, buncis, dan semangka juga mulai dipersiapkan untuk memenuhi standar gizi yang beragam.
Keberhasilan Pinrang ini diharapkan menjadi pilot project bagi daerah lain di Sulawesi Selatan. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan kemauan strategis dan kolaborasi antarlembaga, sebuah daerah mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya.







