Ironi Badan Gizi Nasional: Belanja Mewah Triliunan Terbongkar, Peneliti Justru Diteror Usai Kritik MBG

Wamanews.id, 14 April 2026 – Di tengah ambisi besar pemerintah untuk mengentaskan stuntingmelalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah kontradiksi tajam justru menyeruak dari internal Badan Gizi Nasional (BGN). Alih-alih fokus pada pemenuhan nutrisi di atas piring siswa, instansi baru ini justru terjebak dalam pusaran kritik akibat pola belanja aset yang dinilai sangat fantastis dan tidak menyentuh substansi gizi.
Berdasarkan rincian pengadaan barang BGN tahun anggaran 2025-2026 yang bocor ke publik, terdapat sejumlah pos belanja yang memicu gelombang protes. Salah satu yang paling mencolok adalah pengadaan 21.000 unit motor listrik bagi Kepala Satuan Pelayanan Pembangunan Gizi (SPPG) dengan total anggaran mencapai Rp1,39 triliun.
Ironi ini semakin terasa getir ketika melihat fakta di lapangan. Per 25 Maret 2026, tercatat sebanyak 1.528 SPPG di seluruh Indonesia resmi dihentikan sementara (suspend) operasionalnya dengan alasan standarisasi kualitas dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Mengingat satu unit SPPG rata-rata melayani 3.000 hingga 4.000 siswa, diperkirakan terdapat 4,5 juta hingga 6 juta siswa yang kini kehilangan akses harian terhadap makanan bergizi. Di saat jutaan perut anak sekolah “kosong” akibat suspensi sistem, BGN justru sibuk mengalokasikan Rp6,9 miliar hanya untuk pengadaan kaus kaki, serta belanja alat makan mewah dan jasa Event Organizer (EO) seremonial yang nilainya terus membengkak.
Kondisi ini memancing reaksi keras dari akuntan sekaligus penulis kenamaan Indonesia, Tere Liye. Melalui unggahan media sosialnya pada Selasa (14/4/2026), penulis serial Bumi ini mengecam keras pengadaan laptop dan tablet untuk Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dihargai hingga Rp17 juta per buah.
“Saya sih tidak kaget dengan semakin gilanya BGN ini belanja barang. Setelah motor listrik 21.000 unit, tentu saja printilan lain juga akan dibeli,” sindir Tere Liye.
Sebagai seorang akuntan, ia membandingkan spesifikasi mewah perangkat BGN dengan alat kerja yang ia gunakan untuk menghasilkan puluhan novel best-seller. Ia menyebut laptop yang digunakannya untuk bekerja selama 10 tahun terakhir hanya seharga Rp10 juta, sementara komputer untuk layoutbuku hanya seharga Rp9 juta.
“Duh Rabbi, anak-anak yang kerja di dapur ini, seriusan mereka selevel apa sih pekerjaannya? Elu kasih tablet dan laptop harga 17 juta? Apa sih job desc anak-anak ini? Menggunakan aplikasi apa sampai spek segila itu?” kecam alumni Fakultas Ekonomi UI tersebut. Ia menilai belanja ini adalah pemborosan uang negara di tengah beban pajak yang mencekik rakyat.
Daftar Belanja Kontroversial BGN (TA 2025-2026)
| Jenis Pengadaan | Jumlah / Unit | Total Anggaran / Estimasi |
| Motor Listrik Kepala SPPG | 21.000 Unit | Rp1,39 Triliun |
| Laptop & Tablet SPPI | 60.000 Unit | Rp17 Juta / Buah |
| Atribut Non-Pangan (Kaus Kaki) | – | Rp6,9 Miliar |
| Peralatan Makan & Jasa EO | Berbagai Pos | Terus Membengkak |
Di sisi lain, ruang demokrasi bagi para pengkritik program MBG tampaknya mulai menyempit. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengaku telah mendapatkan serangkaian teror fisik dan psikis yang mengerikan.
Bhima mengungkapkan bahwa dirinya dan sejumlah rekan di Celios mendapatkan intimidasi berupa ancaman pembunuhan hingga ancaman penyiraman air keras. Serangan ini meningkat tajam setelah pihaknya melayangkan gugatan hukum terkait kebijakan pemerintah dan program Makan Bergizi Gratis ke PTUN Jakarta.
“Ini menjadi salah satu sinyal bahwa memang kewaspadaan dan kehati-hatian harus terus ditingkatkan. Ini sinyal buruk bagi peneliti di Indonesia,” tutur Bhima dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (14/4).
Sejumlah pakar kebijakan publik menilai ada diskoneksi atau keterputusan antara visi mulia Presiden Prabowo Subianto dengan eksekusi teknis di level BGN. Target utama perbaikan gizi seharusnya bersifat output oriented yakni seberapa banyak status gizi anak membaik—bukan input oriented yang bersifat kosmetik seperti kendaraan dinas dan gadget mahal.
Jika tidak segera dilakukan koreksi mendalam dan transparansi anggaran, dikhawatirkan program Makan Bergizi Gratis hanya akan berakhir sebagai proyek pengadaan barang berskala besar bagi para vendor, sementara piring-piring di meja sekolah tetap kosong tanpa nutrisi yang dijanjikan.







