Daun Keladi dan Talas, Rahasia Murah Meriah Pakan Ikan Nila yang Tak Banyak Diketahui

Wamanews.id, 21 Mei 2025 – Siapa sangka, daun keladi dan daun talas yang biasa tumbuh liar di sekitar pekarangan rumah ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai pakan alternatif ikan nila. Temuan ini disampaikan oleh akademisi Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Syawaluddin, yang menyebut bahwa daun-daunan ini bisa menggantikan pakan pabrikan (pelet) yang harganya terus melambung.
Fenomena memelihara ikan nila di halaman rumah kian menjadi tren baru masyarakat. Bukan hanya karena ikan ini memiliki rasa yang lezat dan harga yang kompetitif di pasaran, tetapi juga karena aktivitas ini memberikan efek relaksasi bagi pemiliknya. Ikan nila merah pun menjadi primadona karena penampilannya yang menarik dan bisa dipanen untuk konsumsi pribadi.
Namun, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para pemelihara, baik skala kecil maupun besar, adalah harga pakan yang cukup menguras kantong.
Pelet, sebagai pakan utama yang umum digunakan, kini dinilai semakin mahal.
“Padahal ikan nila itu sebenarnya tidak selalu butuh pelet. Di alam mereka justru makan berbagai jenis tumbuhan air. Mereka bersifat herbivora,” kata Dr Syawaluddin dalam keterangannya, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya, ikan nila sangat menyukai berbagai jenis dedaunan seperti daun kangkung, azolla, hingga akar eceng gondok. Namun dari semua itu, yang paling dianjurkan adalah daun keladi dan daun talas. “Dari sisi kandungan nutrisi, daun keladi dan daun talas lebih baik dibanding daun-daun lainnya. Bahkan lebih disukai oleh ikan nila peliharaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Syawal menjelaskan bahwa pemberian daun-daunan sebagai pakan dapat dilakukan secara bergantian dengan pelet, agar ikan tetap mendapat asupan protein yang seimbang. Ia menyarankan pola pemberian pakan secara selang-seling, minimal tiga kali dalam seminggu menggunakan pelet dan sisanya dengan dedaunan.
“Kalau dedaunan saja tanpa pelet, bisa. Tapi tetap lebih optimal kalau digabung agar pertumbuhan ikan tidak lambat,” imbuhnya.
Selain lebih hemat, pemberian pakan dari dedaunan juga memiliki manfaat lain yang sangat penting, yakni mengurangi risiko kanibalisme pada ikan nila. Dalam kondisi tertentu, terutama saat kekurangan nutrisi, ikan nila dapat saling menyerang dan memakan sesamanya.
“Dedauan bisa mencegah stres dan mengurangi kemungkinan ikan saling memakan. Ini penting untuk mempertahankan jumlah ikan dalam kolam,” terang Syawal.
Temuan ini tentu menjadi angin segar bagi para peternak dan penghobi ikan nila. Selain menghemat biaya, metode ini juga ramah lingkungan karena memanfaatkan sumber daya alami yang melimpah di sekitar.
Dengan pengetahuan ini, masyarakat kini bisa mulai mengembangkan budidaya ikan nila secara lebih ekonomis dan berkelanjutan, tanpa harus bergantung penuh pada produk pabrikan.





