Waspada! Musim Banjir Tingkatkan Risiko Terkena Leptospirosis (Kencing Tikus)

Wamanews.id, 3 Desember 2025 – Setiap kali memasuki musim hujan, ancaman penyakit yang disebabkan oleh sanitasi lingkungan yang buruk dan genangan air ikut meningkat. Salah satu penyakit infeksi mematikan yang patut diwaspadai adalah Leptospirosis, atau yang populer disebut sebagai penyakit kencing tikus. Infeksi bakteri ini dapat menyerang siapa saja yang bersentuhan dengan air atau tanah yang tercemar, terutama di wilayah rawan banjir dan padat penduduk.
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam urine tikus. Begitu air banjir, tanah, atau benda di lingkungan terkontaminasi oleh urine ini, bakteri dapat dengan mudah masuk ke tubuh manusia.
Jalur penularan paling umum adalah melalui luka kecil atau lecet pada kulit, atau melalui selaput lendir (mata, hidung, mulut) setelah kontak dengan air yang terkontaminasi. Masyarakat yang aktif di luar rumah saat musim hujan memiliki risiko paparan yang sangat tinggi.
RSUD Mampang Prapatan, dalam unggahan resmi mereka, mengingatkan masyarakat untuk mengenali dan mewaspadai gejala Leptospirosis. Gejala penyakit ini dapat muncul dalam rentang 2 hingga 30 hari setelah paparan, dengan rata-rata mulai terasa pada hari ke-7 hingga ke-10.
Keluhan awal yang sering dilaporkan meliputi:
- Demam mendadak
- Sakit kepala
- Mata merah
- Nyeri otot hebat, terutama di betis
- Mual, muntah, diare, hingga ruam kulit
Kondisi ini bisa berkembang menjadi kasus berat jika tidak segera ditangani. Pada kasus berat, pasien berisiko mengalami penyakit kuning (jaundice), gagal ginjal, bahkan berujung pada kematian.
“Jika mengalami gejala setelah kontak dengan air yang mungkin terkontaminasi, segera datangi Puskesmas atau rumah sakit terdekat,” tulis RSUD Mampang Prapatan, dikutip dari Instagram, Senin (1/12/2025), menekankan kecepatan penanganan medis.
Kewaspadaan ini diperkuat oleh data peningkatan kasus di sejumlah daerah. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat lonjakan signifikan. Hingga 8 Juli 2025, tercatat 19 kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta, dan yang paling memprihatinkan, enam pasien di antaranya meninggal dunia.
Angka ini berarti tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) mencapai 31 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2024, yang hanya mencatat 10 kasus dengan dua kematian.
“Yang cukup memprihatinkan, kematiannya cukup tinggi,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, dilansir dari CNN Indonesia.
Pencegahan Kunci Utama
Mengingat tingginya risiko dan tingkat kematian, pencegahan menjadi upaya paling penting. Masyarakat diimbau untuk mengambil langkah-langkah proaktif di musim hujan:
- Perlindungan Diri: Menggunakan sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan selokan atau area yang terpapar air banjir.
- Kebersihan Diri: Rajin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar ruangan.
- Kendalikan Tikus: Menjaga kebersihan rumah, menghindari tumpukan sampah, dan menutup makanan agar tidak mengundang tikus.







