Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Wamanews.id, 4 Juni 2026 – Pasar keuangan domestik diguncang oleh tekanan hebat yang menimpa mata uang Garuda. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) secara dramatis ambles hingga menembus angka psikologis baru, yakni Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 pagi. Pergerakan nilai tukar ini dibuka langsung di kisaran Rp18.015 per USD. Posisi ini resmi menempatkan rupiah pada level terlemah sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia.

Pelemahan tajam yang melampaui batas Rp18.000 ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya oleh Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pada Rabu, 3 Juni 2026. Setelah pada hari sebelumnya ditutup pada angka Rp17.966 per dolar AS, rupiah untuk perdagangan hari ini diperkirakan masih akan terus berfluktuasi namun tetap ditutup melemah di rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Sumber: fajar.co.id

Ambruknya nilai tukar rupiah tidak lepas dari rentetan sentimen negatif eksternal yang membuat para investor global memilih untuk mengamankan aset mereka. Pelaku pasar saat ini tengah mencermati dengan sangat ketat eskalasi konflik geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan regional meningkat setelah militer Israel melanjutkan operasi militernya di wilayah Lebanon selatan. Di saat yang sama, situasi kian membara setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik yang menyasar pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain.

Ketidakpastian juga menyelimuti ruang diplomasi. “Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangan resminya. Kebuntuan perundingan ini diperkuat oleh laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara pihak Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir.

Tabel: Indikator Sentimen Pemicu Pelemahan Rupiah ke Rp18.000

Kluster FaktorIndikator Ekonomi & Geopolitik di LapanganDampak Langsung ke Pasar Keuangan
Eksternal (Geopolitik)Blokade Selat Hormuz oleh IRGC Iran & ketegangan di Lebanon.Lonjakan harga minyak global dan tersendatnya pasokan komoditas.
Eksternal (Moneter AS)Kenaikan tak terduga lowongan kerja AS per April 2026.Spekulasi The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Domestik (Inflasi)Inflasi Mei 2026 melonjak ke angka 0,28% mtm.Sentimen pasar terhadap mata uang Garuda kian memburuk.
Domestik (Dagang)Surplus neraca perdagangan April menyempit tajam.Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia mengalami tekanan.

Kondisi geopolitik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya mengatrol kekhawatiran terhadap inflasi global. Akibatnya, muncul spekulasi kuat bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Narasi ini diperkuat oleh rilis data pada Selasa (2/6/2026) yang memperlihatkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026, mencerminkan ketatnya pasar tenaga kerja di sana. 

Saat ini, pasar tengah menanti rilis data ekonomi AS lainnya, seperti laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik, sebelum data nonfarm payrolls keluar pada Jumat (5/6/2026).

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah kian memburuk setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 merangkak naik ke angka 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dari inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen. Kenaikan laju inflasi domestik ini didorong oleh komponen harga pangan bergejolak (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri.

Meskipun neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS yang menandai tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 posisi tersebut nyatanya mengalami penyempitan yang sangat tajam.

“Namun kalau dilihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat karena Selat Hormuz diblokade oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” pungkas Ibrahim memetakan beratnya tantangan ekonomi ke depan.

Penulis

Related Articles

Back to top button