Rumah Lapuk Terancam Roboh di Desa Lautang, Warga Berharap Uluran Tangan

Wamanews.id, 28 Desember 2024 – Kisah pilu datang dari Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo. Di tengah keterbatasan ekonomi, Tanjeng (62) bersama dua keponakannya tinggal di sebuah rumah yang nyaris roboh.
Bangunan tersebut, yang menjadi tempat tinggal mereka selama puluhan tahun, kini sudah sangat rapuh akibat usia dan diterjang banjir selama enam hari berturut-turut.
Tanjeng menggantungkan hidup pada bantuan dari tetangga sekitar. Kedua keponakannya, yang juga tinggal bersamanya, tidak memiliki pekerjaan tetap. Salah satu keponakannya, seorang janda, mencoba bertahan hidup dengan bertani jagung.
Namun, usaha tersebut gagal akibat banjir yang melanda wilayah itu. Kehilangan hasil panen semakin memperburuk kondisi ekonomi keluarga ini.
“Rumah saya mau roboh karena diterjang banjir selama enam hari. Saya sangat berharap ada bantuan bedah rumah dari pemerintah,” tutur Tanjeng (Tulisan ini sebelumnya telah terbit di media STRATEGINEWS).
Tidak hanya kondisi fisik rumah yang memprihatinkan, setiap kali hujan deras turun, rasa takut menyelimuti hati Tanjeng. Ia khawatir rumah lapuk itu akan runtuh sewaktu-waktu dan menimpa dirinya serta keponakannya. “Kalau terjadi hujan deras saya sangat ketakutan, takut nanti rumahnya roboh menimpa kami,” tambahnya.
Hj. Mardiana, salah satu tetangga Tanjeng, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi yang dialami Tanjeng dan keluarganya. Menurutnya, jangankan untuk memperbaiki rumah, kebutuhan makan sehari-hari saja terkadang sulit terpenuhi.
Untungnya, Tanjeng termasuk salah satu penerima bantuan beras dan Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah setempat. Namun, bantuan tersebut dirasa belum cukup untuk mengatasi kebutuhan mendesak lainnya, termasuk memperbaiki rumah.
“Saya merasa sangat prihatin melihat kondisi rumah Nenek Tanjeng. Mohon kepada pemerintah atau siapapun yang mau membantu beliau, bisa berkunjung ke rumahnya,” kata Hj. Mardiana dengan penuh harap.
Keprihatinan atas kondisi Nenek Tanjeng seharusnya menjadi perhatian serius, terutama bagi pemerintah daerah dan pihak-pihak yang peduli dengan kesejahteraan masyarakat kurang mampu. Bantuan bedah rumah atau dukungan lainnya sangat diperlukan agar keluarga ini dapat tinggal dengan aman dan nyaman. Rumah yang layak huni adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar-tawar, terlebih bagi masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan.
Kisah Tanjeng mencerminkan realitas banyak warga di pelosok yang masih bergantung pada bantuan pihak luar untuk bertahan hidup. Upaya kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat menjadi kunci untuk memberikan solusi bagi permasalahan seperti ini.
Harapan besar tertuju pada datangnya uluran tangan, baik dari pemerintah melalui program bedah rumah maupun dari dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu sesama.







