Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Ramai Pasien BPJS Dicibir: Mengapa Netizen Begitu Mudah ‘Julid’ di Medsos? 

Wamanews.id, 7 Agustus 2026 – Kasus komentar negatif dan sikap “julid” yang dilayangkan warganet (netizen) terhadap pasien BPJS Kesehatan kembali memicu keprihatinan publik. Kejadian bermula ketika seorang pasien mengeluhkan sulitnya mendapatkan ruang rawat inap di rumah sakit, namun alih-alih memperoleh simpati, ia justru menuai kecaman dan cibiran tajam di media sosial.

Fenomena ini menjadi cermin retaknya rasa empati masyarakat digital saat ini. Banyak pihak mempertanyakan mengapa interaksi di media sosial sering kali berujung pada perundungan (cyberbullying), bahkan terhadap orang yang sedang dalam kondisi rentan dan membutuhkan pertolongan medis.

Pakar psikologi dan kesehatan jiwa menilai terdapat beberapa fenomena psikologis kompleks di balik hilangnya kendali empati seseorang saat berinteraksi di balik layar gawai.

Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater), dr. Lahargo Kembaren, menjelaskan bahwa fenomena cibiran tersebut berkaitan erat dengan konsep psikologis yang disebut displacement. Konsep ini merujuk pada kondisi ketika seseorang mengalihkan emosi negatif terutama rasa marah atau frustrasi dari sumber masalah sebenarnya ke sasaran lain yang dianggap lebih aman dan mudah dijangkau.

Dalam konteks pelayanan kesehatan, seorang tenaga medis atau masyarakat umum mungkin saja merasa tertekan dan frustrasi oleh keterbatasan sistem atau fasilitas kesehatan yang ada. Namun, alih-alih menyalurkan kritik kepada regulator atau sistem, emosi tersebut justru dilampiaskan kepada pasien yang sedang menyampaikan keluhannya.

“Dengan kata lain, kemarahan yang bersumber dari persoalan tertentu dialihkan pada orang yang sebenarnya bukan sumber masalah,” terang dr. Lahargo melansir detikhealth.

Kendati mekanisme pertahanan diri ini lazim terjadi secara psikologis, Lahargo menegaskan bahwa tindakan melampiaskan amarah pada orang yang tidak bersalah tetap tidak dapat dibenarkan.

Tabel: Analisis Psikologis di Balik Sikap “Julid” Warganet

Istilah PsikologiDefinisi & Mekanisme KerjaDampak pada Interaksi Media Sosial
DisplacementPengalihan emosi negatif/kemarahan dari sumber asli ke sasaran yang lebih lemah.Pasien atau korban keluhan dijadikan “kambing hitam” pelampiasan frustrasi.
Online Disinhibition EffectHilangnya hambatan atau hilangnya “rem sosial” saat berkomunikasi di dunia maya.Seseorang menjadi lebih berani berkata kasar, menghakimi, dan tidak sopan.
DehumanisasiProses mengikis sisi kemanusiaan seseorang hingga hanya dipandang sebagai label.Mengabaikan rasa sakit korban dan hanya menganggapnya sebagai “pasien keluhan”.

Lebih jauh, Lahargo menyoroti peran platform media sosial yang kian memperburuk kontrol emosi masyarakat melalui fenomena online disinhibition effect. Fenomena ini membuat seseorang cenderung hilang kendali dan lebih berani berkata kasar saat berinteraksi tanpa tatap muka.

Ketiadaan kontak mata langsung, ekspresi wajah, serta respons emosional secara real-timedari korban membuat “rem sosial” dan norma kesopanan seseorang melemah secara drastis di ruang digital.

Selain itu, media sosial mempermudah terjadinya dehumanisasi. Seseorang yang sedang sakit atau berjuang mencari perawatan tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh yang memiliki perasaan, keluarga, atau rasa sakit.

“Korban tidak lagi dipandang sebagai seorang ayah, ibu, anak, atau seseorang yang sedang kesakitan. Ia hanya dilihat sebagai ‘pasien BPJS’, ‘netizen yang mencari perhatian’, atau ‘orang yang suka mengeluh’,” tambah Lahargo.

Dampaknya, empati menguap begitu saja dan digantikan oleh penghakiman massal yang salah sasaran. Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga kesadaran, empati, serta etika dalam berkomunikasi di ruang publik digital.

Penulis

Related Articles

Back to top button