Ramadan 2026 di Depan Mata: FKBI Ingatkan Warga Jangan ‘Panic Buying’ dan Jaga Kesehatan!

Wamanews.id, 17 Februari 2026 – Aroma bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sudah mulai terasa. Bagi masyarakat Indonesia, datangnya bulan puasa bukan sekadar tentang peningkatan intensitas ibadah, melainkan juga pergerakan roda ekonomi yang melesat tajam. Namun, di balik geliat belanja yang meningkat, tersimpan risiko klasik yang kerap berulang setiap tahun: lonjakan harga dan kelangkaan barang akibat perilaku belanja yang tidak rasional.
Menyikapi fenomena ini, Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi panic buying.
Ketua FKBI, Tulus Abadi, dalam keterangan resminya pada Selasa (17/2/2026), menekankan bahwa konsumsi yang melebihi batas kewajaran justru akan merugikan konsumen itu sendiri. Ketika banyak orang memborong stok barang secara berlebihan karena takut kehabisan, pasar akan mengalami distorsi.
“Konsumsi yang melebihi kewajaran menjurus pada perilaku egois. Dampaknya, pasar bisa terdistorsi, harga melambung tinggi, bahkan terjadi kelangkaan pasokan barang yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” ujar Tulus.
FKBI mengingatkan bahwa stok pangan nasional sejatinya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Idulfitri, asalkan distribusi berjalan lancar dan tidak ada gangguan permintaan yang bersifat anomali akibat kepanikan warga.
Selain mengimbau warga, FKBI juga menaruh perhatian besar pada peran regulator. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pertanian (Kementan), Bulog, dan instansi terkait didesak untuk meningkatkan pengawasan pasar.
FKBI menggarisbawahi beberapa poin penting untuk mitigasi krisis pangan selama Ramadan 2026:
- Pengawasan Intensif: Melakukan pantauan harian terhadap komoditas vital seperti daging sapi, daging ayam, telur, minyak goreng, dan gula pasir.
- Penegakan Hukum (Law Enforcement): Pemerintah harus berani menindak tegas oknum distributor atau pedagang besar yang terbukti melakukan penimbunan barang demi keuntungan pribadi.
- Pengendalian Inflasi: Menjaga agar laju inflasi tetap berada di angka yang wajar, yakni di kisaran 2% hingga 3%.
“Jangan sampai ada pihak-pihak yang menggunakan jurus ‘aji mumpung’ dengan menaikkan harga seenaknya atau sengaja menimbun barang untuk mengacaukan harga,” tambah Tulus.
Bukan hanya soal harga, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian serius FKBI. Selama Ramadan, potensi peredaran makanan dan minuman ilegal atau tidak layak konsumsi biasanya meningkat. Banyak pedagang nakal, termasuk dari kalangan UKM dan UMKM, yang mengabaikan kualitas demi mengejar margin keuntungan di tengah tingginya permintaan takjil dan makanan berbuka.
Berikut adalah panduan bagi konsumen untuk tetap aman saat berbelanja kebutuhan Ramadan:
| Aspek yang Harus Diperiksa | Detail Keamanan |
| Tanggal Kedaluwarsa | Pastikan produk masih dalam masa layak konsumsi. |
| Kandungan GGL | Batasi produk dengan kadar Gula, Garam, dan Lemak yang terlalu tinggi. |
| Zat Berbahaya | Waspadai warna yang terlalu mencolok (potensi Metanil Yellow) atau tekstur yang terlalu kenyal/awet (potensi Formalin/Boraks). |
| Legalitas Produk | Periksa nomor izin edar dari Badan POM atau Dinas Kesehatan (P-IRT). |
FKBI secara khusus mendesak Kementerian Kesehatan dan Badan POM untuk melakukan inspeksi rutin ke pasar-pasar tradisional maupun swalayan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa masyarakat tidak mengonsumsi bahan berbahaya yang dapat merusak kesehatan di tengah menjalankan ibadah puasa.
Kepada para pelaku usaha, baik skala besar maupun UMKM, FKBI mengajak untuk mengedepankan etika bisnis. Memproduksi dan memasarkan produk yang higienis serta bebas kontaminasi zat berbahaya adalah bentuk kontribusi nyata dalam mendukung kelancaran ibadah Ramadan bagi jutaan umat Muslim di Indonesia.
Sambutlah Ramadan dengan kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama. Dengan pola konsumsi yang wajar dan pengawasan pemerintah yang ketat, diharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga hingga hari kemenangan tiba.







