Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Kurikulum Sekolah Bakal Dipangkas Pemerintah Terapkan Sistem Deep Learning, Ini Dampaknya

Wamanews.id, 16 April 2025 – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah menyiapkan gebrakan besar dalam sistem pendidikan nasional. Dalam waktu dekat, materi pelajaran di sekolah-sekolah akan dikurangi secara signifikan, seiring penerapan metode pembelajaran baru yang dikenal dengan istilah deep learning.

Langkah ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Rabu (16/3/2025). Menurutnya, sistem pendidikan saat ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

“Sehingga karena itu, maka materi pelajaran akan dikurangi,” ujar Mu’ti.

Mu’ti menjelaskan bahwa pendekatan deep learning bukan sekadar gaya mengajar, melainkan sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan. Sistem ini berfokus pada pembelajaran yang lebih mendalam, kontekstual, dan bermakna.

“Karena pembelajaran mendalam itu menekankan pembelajaran yang lebih konstruktifis,” imbuhnya.

Konsep deep learning mengajak siswa untuk tidak hanya sekadar menghafal materi, tetapi mendorong mereka untuk berpikir kritis, memahami konteks, dan menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut Mu’ti, sistem ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis pemahaman dan eksplorasi, bukan hanya mengejar banyaknya materi atau penyelesaian kurikulum secara cepat.

“Ini teori pelajaran konstruktifis kemudian deep learning process, proses pembelajaran yang mendalam berpikir tingkat tinggi,” terang Mendikdasmen.

Rencana ini sedang dalam tahap persiapan dan pengembangan, termasuk dari sisi kurikulum dan pelatihan guru. Hal ini disampaikan Mu’ti dalam acara Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep Learning yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 17 Februari 2025 lalu.

“Ini masih on going process, kita sedang mempersiapkan penerapan deep learning,” tegasnya.

Dalam konsep ini, guru akan memiliki peran sebagai fasilitator yang membantu siswa menggali pemahaman lebih dalam terhadap suatu topik. Proses belajar akan lebih berpusat pada siswa (student-centered learning), di mana siswa aktif dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Pengurangan materi ajar bukan berarti pendidikan akan menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, setiap topik akan dipelajari dengan lebih menyeluruh dan bermakna. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pemahaman dan penerapan ilmu dalam kehidupan nyata.

Sejumlah pakar pendidikan menyambut baik langkah ini, mengingat sistem pembelajaran sebelumnya sering dikritik terlalu menekankan pada kuantitas materi dan nilai ujian, bukan pada proses dan makna belajar.

Namun, tantangan tetap ada. Perlu kesiapan guru, perangkat ajar, hingga pemahaman orang tua terhadap perubahan ini agar proses transisi berjalan lancar. Evaluasi dan pelatihan intensif juga diperlukan agar deep learning tidak hanya menjadi jargon semata.

Langkah ini menandai babak baru pendidikan Indonesia yang berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan global dan kebutuhan masa depan, di mana kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan problem solving menjadi kunci utama keberhasilan siswa.

Dengan rencana pengurangan materi dan fokus pada kedalaman belajar, publik kini menanti implementasi nyatanya di lapangan. Akankah sistem ini mampu menjawab tantangan pendidikan Indonesia yang selama ini dinilai terlalu padat namun minim makna?

Penulis

Related Articles

Back to top button