Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Prabowo Sebut Pakar Goblok, Akademisi Nilai Presiden Gagal Jadi Teladan Etika Komunikasi

Wamanews.id, 19 September 2026 – Pernyataan terbuka Presiden Prabowo Subianto yang melontarkan umpatan dengan menyebut pakar “goblok” dalam forum publik menuai gelombang kritik dari kalangan akademisi dan pendidik. Langkah orang nomor satu di Indonesia tersebut dinilai mencederai etika ruang publik serta menempatkan para guru maupun dosen pada posisi dilematis saat mengajarkan tata krama komunikasi kepada para siswa di sekolah.

Kritik tajam tersebut salah satunya dilayangkan oleh Ahmad Junaidi, akademisi sekaligus dosen di Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui pernyataan terbuka di akun Instagram miliknya pada Sabtu (19/9/2026), Junaidi menyayangkan gaya komunikasi presiden yang dinilai tidak memberikan contoh tutur kata yang pantas bagi generasi penerus bangsa.

“Kami di sekolah berusaha mengajarkan komunikasi yang baik. Sayangnya bapak jadi contoh yang kurang baik bagi jutaan siswa Indonesia,” tulis Junaidi dalam unggahannya.

Junaidi menegaskan, meski presiden memiliki perbedaan pandangan atau merasa tidak cocok dengan kritik yang disuarakan oleh para pakar independen, meresponsnya dengan diksi umpatan di depan sorotan kamera televisi nasional merupakan tindakan yang tidak etis bagi seorang kepala negara.

“Isi dan etika penyampaian Bapak merespons pendapat pakar (yang sebenarnya mengambil risiko ketika mengkritik Bapak) sangat tidak etis. Jutaan siswa melihat apa yang Bapak lakukan dan katakan,” imbuh Junaidi menegaskan kekecewaannya.

Sebagai figur pemimpin tertinggi republik, Prabowo dinilai Junaidi gagal menjadi teladan dalam menghargai kontribusi intelektual warga negaranya. Setidaknya terdapat dua poin fundamental yang menjadi sorotan utama sang akademisi terhadap kepemimpinan Prabowo saat ini.

Pertama, adanya sikap yang tidak konsisten terhadap nilai kepakaran dan sains. Di satu sisi kepala negara kerap menyatakan dirinya gemar membaca literatur dan dikelilingi oleh tim ahli. Namun di sisi lain, Prabowo kerap memperlihatkan ketidaksukaan terbuka terhadap masukan kritis dari para ahli kesehatan, pengamat kebijakan publik, pakar pendidikan, hingga ekonom yang menyuarakan pandangan berbeda dari pemerintah.

Kedua, terulangnya kebiasaan memakai kata-kata makian atau umpatan dalam pidato kenegaraan maupun forum resmi partai. Penggunaan kata bernada merendahkan dinilai sebagai preseden buruk dalam tata kelola komunikasi kepresidenan.

“Boleh menggunakan ekspresi verbal seperti ‘goblok’ dan ‘ndsmu’, dan dalam perspektif komunikasi, ini adalah pelanggaran besar mengingat Bapak adalah seorang presiden, pemimpin tertinggi republik,” ungkapnya.

Selain aspek bahasa, Junaidi turut mengkritisi kecenderungan pemerintah dalam memutus kebijakan strategis secara emosional tanpa landasan kajian saintifik yang mendalam. Ia mencontohkan respons kebijakan terkait ukuran huruf buku siswa sekolah dasar hingga klaim sepihak mengenai lonjakan IQ anak akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diamplifikasi tanpa verifikasi ilmiah proporsional.

Demi perbaikan ke depan, Junaidi menyarankan agar presiden mencontoh ketenangan retorika kepemimpinan dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atau membiasakan diri berpidato dengan teks terstruktur demi menjaga stabilitas nalar dan emosi di muka umum.

Polemik ini bermula dari pidato Prabowo Subianto saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Jumat (18/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mulanya menegaskan kembali komitmen pribadinya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, di sela paparannya, ia melontarkan sindiran keras terhadap para analis yang sering melancarkan kritik terhadap program kerja pemerintahannya.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok,” cetus Prabowo di hadapan para kader partai.

Prabowo berdalih bahwa kritik yang dilontarkan sejumlah pakar acap kali melenceng dari realitas yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ia pun mengaku berbicara lebih lepas karena merasa berada di tengah lingkaran sahabat setia koalisinya, kendati forum tersebut tetap disiarkan dan disorot luas oleh media massa nasional.

Penulis

Related Articles

Back to top button