Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz & Laut Merah Jika AS Lanjutkan Blokade Laut 

Wamanews.id, 29 Juli 2026 – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang krisis hebat. Markas Besar Sentral Khatam al-Anbiya Iran menyampaikan peringatan keras kepada militer Amerika Serikat (AS) bahwa tindakan blokade laut terhadap armada laut, kapal dagang, dan tanker minyak milik Tehran akan dianggap sebagai deklarasi “eskalasi perang secara terbuka” di kawasan regional.

Pernyataan bersiap tempur tersebut dikeluarkan setelah komando militer Iran menuduh Washington terus menerus mengintersepsi dan mengancam kapal-kapal berbendera Iran yang berlayar di perairan teritorial maupun pesisir internasional.

Melalui siaran resmi Fars News Agency pada Senin (28/7/2026), pihak Khatam al-Anbiya menuding AS telah melakukan manuver provokatif yang membahayakan keamanan jalur pelayaran internasional dalam tiga hari terakhir.

“Tindakan AS ini akan dianggap sebagai eskalasi perang di kawasan. Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan ancaman atau tindakan bermusuhan dari militer teroris negara itu tanpa balasan, dan siap menghadapinya secara tegas,” tulis pernyataan resmi militer Iran.

Panglima Markas Besar Sentral Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menggarisbawahi bahwa jika pemerintah AS terus melanjutkan “aksi ilegal blokade laut” dan menciptakan gangguan keamanan bagi armada kapal dagang serta tanker Iran, maka langkah AS tersebut dinilai sebagai bentuk pelanggaran nyata atas kesepakatan gencatan senjata.

Abdollahi menegaskan bahwa Tehran tidak akan tinggal diam dan siap mengambil langkah ekstrem untuk melumpuhkan alur perdagangan maritim di jalur-jalur vital dunia.

“Iran tidak akan mengizinkan kegiatan ekspor dan impor terus berlanjut di perairan Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Merah jika blokade maritim ini terus dipaksakan,” tegas Mayjen Ali Abdollahi.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kebijakan blokade laut terhadap Iran masih berlaku secara penuh. CENTCOM bahkan merilis dokumentasi video operasi militer di mana pasukan AS menghentikan dan mengalihkan sejumlah kapal dagang yang mencoba menerobos area terlarang, menonaktifkan kapal yang membangkang, serta melakukan pemeriksaan dokumen kepatuhan di atas geladak.

CENTCOM bergeming bahwa operasi ketat tersebut bertujuan untuk “melemahnkan kemampuan Iran dalam mengancam pelaut sipil serta kapal-kapal komersial yang melintas di perairan internasional.” AS mengeklaim pihaknya tidak berupaya memperluas eskalasi perang, tetapi siap mempertahankan diri dan merespons setiap ancaman terhadap pasukan Amerika.

Eskalasi militer ini merupakan buntut dari rangkaian aksi saling serang intensif selama beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, jet-jet tempur AS menggelar serangan udara masif ke sejumlah fasilitas di Iran selama hampir dua pekan. Tehran kemudian merespons balik dengan meluncurkan rudal dan nirawak ke instalasi serta aset militer AS yang bermarkas di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.

Ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi kartu truf paling krusial dalam dinamika ini. Sebagai salah satu chokepoint logistik paling vital di dunia yang dilintasi lebih dari 3.000 kapal tanker per bulan, pemblokiran Selat Hormuz dipastikan bakal langsung memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak mentah secara ekstrem.

Hingga Selasa (28/7/2026), diplomasi tak langsung dilaporkan masih terus mengupayakan pembaharuan kesepakatan gencatan senjata guna mencegah pecahnya perang terbuka secara menyeluruh di Kawasan Teluk. 

Penulis

Related Articles

Back to top button