Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Menakar Klaim Prabowo Soal Indonesia Negara Paling Bahagia: Benarkah atau Sekadar Salah Data?

Wamanews.id, 10 Januari 2026 – Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto kembali memicu diskusi publik yang hangat di awal tahun 2026. Dalam sebuah kesempatan terbaru, Presiden Prabowo melontarkan klaim yang cukup “berani”, yakni menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. 

Menurut Presiden, pernyataan tersebut didasarkan pada hasil riset kolaborasi antara Harvard UniversityBaylor University, dan lembaga survei internasional Gallup melalui tajuk Global Flourishing Study.

Namun, bak oase di tengah padang pasir, klaim tersebut segera mendapat tanggapan kritis dari para pegiat data dan konten kreator. Salah satunya adalah Fathian Hafiz, seorang analis data yang videonya viral setelah membedah isi laporan riset yang dimaksud oleh Presiden.

Dalam unggahannya pada Sabtu (10/1/2026), Fathian mencoba membuktikan apakah data yang disampaikan oleh kepala negara tersebut akurat atau sekadar penyederhanaan informasi yang berlebihan (over-simplifying).

Poin pertama yang dikoreksi oleh Fathian adalah istilah riset yang digunakan. Menurutnya, riset yang dimaksud oleh Presiden adalah Global Flourishing Study, yang memiliki parameter berbeda dengan tingkat kebahagiaan (happiness).

“Berhubung saya sudah pegang hasilnya, mari kita buktikan. Apakah bapak Presiden memang baca datanya atau dibisikin doang dan iya-iya saja. Jadi riset yang dimaksud adalah Global Flourishing Study, bukan Happiness Study,” tegas Fathian dalam video unggahannya.

Riset tersebut melibatkan 207.000 partisipan dari 23 negara yang disurvei selama lima tahun. Fathian menjelaskan bahwa skor Indonesia memang tergolong tinggi jika dilihat secara akumulatif dalam kategori flourishing (kesejahteraan batin atau kemakmuran mental), namun ia memperingatkan bahwa skor tinggi tersebut didorong oleh indikator tertentu yang bersifat kultural.

Berdasarkan data yang dibedah, tingginya skor Indonesia dalam studi tersebut dipicu oleh nilai-nilai sosial yang memang melekat pada masyarakat nusantara. Indikator seperti karakter yang baik, tujuan hidup yang tinggi, rasa gotong-royong, solidaritas, hingga religiositas masyarakat Indonesia berada pada level yang sangat memuaskan.

“Karakter orang Indonesia itu baik, tujuan hidupnya tinggi, terus gotong-royong dan solidaritasnya tinggi. Makanya setelah di-combine, skor akhirnya tinggi banget. Kebantu sama itu,” paparnya.

Namun, di balik skor “hijau” tersebut, tersimpan fakta yang kontradiktif. Fathian menunjukkan bahwa ada beberapa poin vital yang justru “jeblok” bagi warga Indonesia. Menurut data tersebut, orang Indonesia justru memiliki tingkat kepuasan hidup (life satisfaction) yang rendah. Selain itu, kondisi kesehatan fisik masyarakat Indonesia juga tercatat tidak cukup sehat secara statistik jika dibandingkan negara peserta riset lainnya.

Artinya, masyarakat Indonesia mungkin merasa hidupnya bermakna secara sosial dan spiritual, namun secara fisik dan kepuasan kesejahteraan harian, kondisinya tidak seindah klaim yang disampaikan.

Melanjutkan analisisnya, Fathian Hafiz membandingkan klaim tersebut dengan laporan yang benar-benar fokus pada tingkat kebahagiaan, yakni World Happiness Report. Laporan ini merupakan rujukan global utama yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan suatu bangsa.

Hasilnya cukup mencengangkan dan jauh dari kata “paling bahagia di dunia”. Dalam laporan tersebut, Indonesia justru terjembab di urutan ke-83 dunia. Posisi ini menempatkan Indonesia jauh di bawah negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina. Bahkan, posisi Indonesia masih berada di bawah Venezuela, sebuah negara yang dalam beberapa tahun terakhir dilanda krisis ekonomi hebat.

“Kalau kita lihat, posisi kita masih di bawah Polandia, Brasil, Spanyol, Amerika Serikat, Jerman, hingga Swedia. Bahkan kita jauh di bawah Thailand dan Filipina,” pungkasnya.

Polemik data ini menjadi pengingat penting bagi publik dan para pejabat negara untuk lebih berhati-hati dalam mengutip hasil riset. Penggunaan istilah yang salah atau pengambilan kesimpulan hanya berdasarkan skor akhir tanpa melihat indikator penyusunnya dapat menyesatkan persepsi publik.

Fathian berharap agar para pemimpin tidak terjebak pada penyederhanaan data demi narasi positif semata. “Gitu ya teman-teman, jadi jangan kayak bapak Presiden, jangan over-simplifying. Jangan iya-iya saja,” tutupnya dalam video tersebut.

Kritik ini diharapkan menjadi masukan konstruktif bagi pemerintah agar kebijakan ke depan lebih berfokus pada perbaikan nyata di sektor kepuasan hidup dan kesehatan fisik, bukan sekadar bangga pada tingginya nilai solidaritas sosial yang memang sudah menjadi jati diri bangsa sejak lama.

Penulis

Related Articles

Back to top button