Perbedaan Mencolok Antara Lansia dan Anak Muda Soal Penyesalan Hidup

Wamanews.id, 18 Mei 2026 – Penyesalan adalah salah satu emosi manusia yang paling universal, namun bagaimana seseorang memandang keputusan masa lalu mereka ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor usia dan sisa waktu yang mereka miliki. Sebuah studi psikologi sosial terbaru menyoroti adanya perbedaan sudut pandang yang sangat kontras antara kelompok lanjut usia (lansia) dan generasi muda terkait apa yang paling mereka sesali dalam perjalanan hidup.
Fenomena perbedaan perspektif ini memberikan gambaran berharga mengenai bagaimana prioritas manusia bergeser seiring berjalannya waktu. Apa yang dianggap sebagai beban pikiran utama bagi seorang anak muda, bisa jadi dipandang sebagai hal yang sepele oleh mereka yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.
Berdasarkan riset empiris yang dipublikasikan baru-baru ini, kelompok usia muda (berada di rentang usia 18 hingga 30-an tahun) cenderung lebih sering dihantui oleh penyesalan atas tindakan atau keputusan aktif yang mereka ambil tetapi berakhir buruk. Dalam istilah psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai errors of commission.
Bagi anak muda, penyesalan terbesar mereka biasanya berkisar pada:
- Memilih jurusan kuliah atau jalur karier yang ternyata tidak sesuai denganĀ passion.
- Memulai hubungan asmara dengan orang yang salah atau mengalami kegagalan pernikahan di usia muda.
- Mengambil keputusan finansial yang impulsif, seperti investasi bodong atau utang konsumtif demi gaya hidup.
Karena menganggap masa depan mereka masih panjang, generasi muda cenderung merasa tertekan oleh kesalahan-kesalahan aktif ini. Mereka merasa keputusan keliru tersebut telah membuang waktu dan potensi besar yang mereka miliki saat ini.
Hal yang bertolak belakang justru ditemukan pada kelompok lansia (usia 60 tahun ke atas). Ketika diminta merefleksikan kembali perjalanan hidup mereka, para lansia jarang sekali menyesali kesalahan aktif yang pernah mereka lakukan di masa muda. Sebaliknya, mereka justru lebih banyak meratapi hal-hal yang tidaksempat mereka lakukan atau peluang yang sengaja dilewatkan (errors of omission).
Bagi mereka yang berada di usia senja, penyesalan terbesar umumnya bermuara pada hilangnya keberanian di masa lalu untuk mengambil risiko demi impian besar. Penyesalan tersebut meliputi:
- Tidak berani menyatakan cinta atau mempertahankan hubungan dengan seseorang yang berharga.
- Menolak tawaran pekerjaan atau peluang bisnis di masa lalu hanya karena takut gagal atau keluar dari zona nyaman.
- Kurangnya waktu berkualitas (quality time) yang dihabiskan bersama keluarga dan anak-anak karena terlalu fokus mengejar materi di masa produktif.
Tabel: Komparasi Fokus Penyesalan Berdasarkan Kelompok Usia
| Aspek Komparasi | Perspektif Generasi Muda | Perspektif Lanjut Usia (Lansia) |
| Kategori Penyesalan | Tindakan aktif yang salah (Commission). | Peluang yang dilewatkan (Omission). |
| Fokus Utama Isu | Karier, asmara terkini, dan finansial. | Hubungan keluarga dan impian masa muda. |
| Pemicu Penyesalan | Kegagalan dari keputusan yang baru diambil. | Ketakutan mengambil risiko di masa lalu. |
| Sifat Emosi | Menuntut perbaikan instan / stres akut. | Refleksi mendalam / melankolis jangka panjang. |
Para pakar psikologi yang terlibat dalam studi ini menjelaskan bahwa perbedaan cara pandang ini dipicu oleh “teori sosioemosional selektif.” Anak muda memandang waktu sebagai sesuatu yang tak terbatas, sehingga mereka sangat sensitif terhadap hambatan yang merusak rencana jangka panjang mereka. Sementara itu, lansia yang menyadari keterbatasan waktu lebih memprioritaskan kedamaian emosional dan makna hidup yang mendalam.
Melalui temuan studi ini, generasi muda diharapkan dapat belajar dari kebijaksanaan para lansia. Kegagalan dari sebuah tindakan yang salah (seperti salah memilih pekerjaan atau bisnis bangkrut) ternyata akan memudar seiring berjalannya waktu dan tertutup oleh pengalaman baru. Namun, rasa penasaran dan penyesalan akibat tidak pernah mencoba suatu hal yang positif justru akan bertahan hingga akhir hayat.
Menjalani hidup dengan meminimalisir penyesalan bukan berarti hidup tanpa kesalahan. Kuncinya adalah berani mengambil peluang baik yang datang, menjaga hubungan baik dengan orang-orang terkasih, dan menganggap setiap kegagalan aktif sebagai bahan evaluasi, bukan akhir dari segalanya.





