Korban Keracunan MBG di Tana Toraja Melonjak, 173 Siswa dan Guru Terdampak

Wamanews.id, 5 September 2026 – Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan, terus melonjak tajam. Berdasarkan data terbaru, total warga sekolah yang terdiri dari siswa hingga guru yang terdampak kini telah menembus angka 173 orang.
Lonjakan data kasus ini terjadi setelah petugas medis dari dinas kesehatan setempat dan Puskesmas melakukan penyisiran serta pendataan ulang di sejumlah sekolah yang menerima pendistribusian paket makanan program tersebut. Sebagian besar korban mengeluhkan gejala serupa, seperti mual, muntah, pusing, hingga diare selang beberapa jam setelah mengonsumsi sajian Makan Bergizi Gratis.
Guna mengantisipasi membludaknya jumlah pasien, pihak fasilitas kesehatan di Tana Toraja telah menyiagakan ruang perawatan ekstra dan mengoptimalkan penanganan di Puskesmas maupun Rumah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lakipadada.
Para korban yang berdatangan langsung mendapatkan penanganan darurat berupa pemberian cairan infus, obat anti-mual, serta penstabil kondisi tubuh. Petugas medis mengonfirmasi bahwa sebagian besar pasien menderita gejala ringan hingga sedang. Meski demikian, beberapa di antaranya yang mengalami dehidrasi cukup berat harus menjalani perawatan rawat inap secara intensif.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, sejumlah siswa yang kondisinya mulai membaik sudah diperbolehkan pulang oleh tim medis untuk menjalani rawat jalan di rumah masing-masing. Namun, tim kesehatan tetap mengimbau para orang tua siswa agar segera melapor apabila anak mereka kembali mengeluhkan gejala susulan.
Guna memastikan penyebab pasti timbulnya reaksi masal ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja telah mengamankan dan mengambil sampel dari sisa makanan yang dibagikan pada hari kejadian. Sampel makanan tersebut, yang meliputi lauk-pauk, nasi, hingga kemasan sajian, dikirim ke laboratorium kesehatan untuk diuji secara komprehensif.
Uji laboratorium ini bertujuan untuk mengecek kandungan bakteri, mikroorganisme berbahaya, maupun kontaminasi zat kimia yang mungkin ada di dalam masakan. Pihak dinas menegaskan bahwa hasil pengujian laboratorium memerlukan waktu beberapa hari sebelum dapat disimpulkan secara resmi kepada publik.
Insiden yang menyita perhatian publik ini mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera bertindak tegas. Langkah pertama yang diambil adalah menghentikan sementara distribusi paket Makan Bergizi Gratis dari penyedia jasa (katering) yang menyuplai makanan ke sekolah-sekolah terdampak.
Investigasi mendalam tengah dilakukan untuk memeriksa seluruh rantai pasok makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, kebersihan dapur, proses memasak, hingga durasi penyimpangan dan pengiriman makanan dari dapur produksi menuju sekolah penerima manfaat. Evaluasi menyeluruh ini krusial dilakukan guna memetakan potensi kelalaian serta standar operasional prosedur (SOP) higienitas saniter yang mungkin terabaikan.
Kejadian di Tana Toraja ini menjadi sinyal penting bagi pengelola program MBG di berbagai daerah untuk memperketat kontrol kualitas (quality control) dan memastikan standar kebersihan pengolahan pangan benar-benar diterapkan secara konsisten, demi keselamatan anak-anak sekolah serta tenaga pendidik.







