Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

El Niño Makin Membesar, Sekjen PBB dan BRIN Ingatkan Bahaya Cuaca Ekstrem 

Wamanews.id, 5 September 2026 – Peringatan serius mengenai ancaman gelombang iklim global kembali digaungkan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres. Dalam keterangannya, Guterres menegaskan bahwa fenomena krisis iklim El Niño saat ini kian membesar dan berpotensi memicu gelombang cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya, Guterres menyoroti kenaikan suhu permukaan air laut serta lonjakan temperatur global yang terus membumbung tinggi. Kondisi ini dinilai menempatkan bumi dalam kurun waktu yang sangat kritis.

“El Niño sedang membesar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan jelas: suhu permukaan laut sedang naik, suhu terus meningkat & dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem,” tulis António Guterres pada Sabtu (5/9/2026).

Guterres menggambarkan situasi saat ini sebagai sebuah perlombaan waktu antara eskalasi dampak perubahan iklim dan komitmen kolektif negara-negara di dunia untuk mengambil tindakan nyata. Ia menekankan perlunya langkah darurat guna melindungi populasi manusia dari bencana ekologis.

“Balapan sekarang adalah antara risiko yang meningkat & komitmen kita untuk mengambil #ClimateAction & melindungi orang-orang. Kita harus memenangkan balapan itu,” tegasnya.

Pernyataan tegas pimpinan tertinggi PBB tersebut mendapat respons mendalam dari kalangan ilmuwan Indonesia. Ahli Iklim dan Cuaca Ekstrem Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, menilai peringatan Guterres menjadi konfirmasi valid atas temuan ilmiah mengenai ancaman bahaya iklim terkini.

Menurut Prof. Erma, sinyal yang disampaikan Sekjen PBB selaras dengan kalkulasi para ahli iklim global yang memprediksi kemunculan fenomena Super El Niño, yang berpotensi mencatatkan rekor sebagai yang paling intensif dalam sejarah peradaban manusia.

“Sekjen PBB sendiri yang langsung mengingatkan pada warga dunia tentang kebenaran data dan informasi yang telah disampaikan oleh ilmuwan tentang super El Nino yang bakal jadi terkuat sepanjang sejarah,” ungkap Prof. Erma melalui akun X pribadinya pada Sabtu (5/9/2026).

Lebih lanjut, Prof. Erma menjelaskan bahwa dinamika anomali cuaca saat ini dipicu oleh dua parameter utama yang melonjak secara simultan. Faktor pertama adalah lonjakan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik yang menjadi penanda utama El Niño, dan faktor kedua adalah fenomena global warming atau kenaikan temperatur rata-rata atmosfer bumi.

“Keduanya berjalan beriringan dan sama-sama sedang menanjak; antara suhu permukaan laut El Nino dan temperatur bumi,” jelasnya.

Sinergi antara pemanasan global akibat emisi karbon dan pemanasan alami El Niño dikhawatirkan memicu kekeringan parah, krisis air bersih, kegagalan panen massal, hingga lonjakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tropis seperti Indonesia. Oleh karena itu, kesiapsiagaan mitigasi bencana hidrometeorologi dan penyesuaian sektor pertanian menjadi prioritas mendesak yang harus segera diantisipasi pemerintah serta masyarakat luas.

Penulis

Related Articles

Back to top button