Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Wajo

Kemarau Tekan Sulsel, 50 Hektare Lahan Pertanian Wajo-Sidrap Terdampak

Wamanews.id, 7 September 2026 – Musim kemarau mulai memberikan tekanan nyata pada sektor pertanian di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Dua kawasan yang dikenal sebagai lumbung pangan utama daerah, yakni Kabupaten Wajo dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menjadi wilayah yang paling terdampak dengan total luas lahan pertanian yang terancam mencapai sekitar 50 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPH-Bun) Sulsel, Bustanul Arifin, mengungkapkan bahwa pihak pemerintah daerah bersama instansi terkait sedang bergerak cepat melakukan berbagai langkah intervensi guna menyelamatkan lahan yang terdampak agar tidak mengalami gagal panen total atau puso.

“Yang besar itu ada Wajo, Sidrap kurang lebih 50-an hektare. Yang terdampak ini kita bisa maksimalkan untuk kita intervensi,” ujar Bustanul pada Minggu (6/9/2026).

Upaya penyelamatan lahan pertanian yang dilanda krisis air dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya air yang masih tersedia di sekitar lokasi persawahan. Pemerintah mengandalkan pemanfaatan mesin pompa air serta pembuatan sumur bor guna mengalirkan pasokan air ke petakan sawah warga yang mulai mengering. Langkah tanggap darurat ini diharapkan mampu menekan potensi kegagalan panen secara signifikan.

Sementara itu, untuk areal persawahan yang sudah terlanjur mengalami puso, Pemerintah Provinsi Sulsel telah menyiapkan strategi penyeimbang. Pemprov berencana menggenjot volume produksi di wilayah pertanian lain yang masih produktif melalui penerapan adopsi teknologi pertanian modern secara optimal.

“Kita berharap apa yang menjadi lahan-lahan yang puso ini, kita bisa ganti dengan produksi-produksi, pemanfaatan teknologi di tempat lain, sehingga produksinya bisa saling menutupi dengan yang puso tadi,” jelas Bustanul lebih lanjut.

Pemerintah Provinsi Sulsel menegaskan bahwa langkah mitigasi bencana kekeringan ini tidak hanya dirancang untuk mengantisipasi musim kemarau mendatang, melainkan telah dieksekusi secara intensif sejak musim kemarau tahun ini. Berbagai program prioritas telah berjalan di lapangan, mencakup pembagian bantuan mesin pompa air, pembangunan jaringan sumur bor, hingga pengaturan pola distribusi air secara adil dan terukur di seluruh area irigasi.

Guna menunjang sistem pengairan di wilayah kritis, Pemprov Sulsel telah mengalokasikan sebanyak 300 unit bantuan pompa jenis alkon. Kendati demikian, Bustanul mengakui bahwa jumlah alokasi tersebut masih belum mencukupi untuk memenuhi seluruh tingginya angka permintaan unit pompa dari berbagai kabupaten di Sulsel.

Oleh karena itu, keberhasilan penanganan krisis air di sektor pertanian ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat antartingkatan pemerintah. “Penanganannya ini bukan hanya provinsi tetapi kolaborasi, sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi dan kementerian pusat melalui Kementerian Pertanian,” tegasnya.

Berdasarkan data dan prakiraan cuaca resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan September 2026 diproyeksikan menjadi periode puncak dari musim kemarau di wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah berharap intensitas curah hujan dapat kembali meningkat secara bertahap memasuki bulan Oktober, November, hingga Desember, sehingga ancaman kekeringan di kawasan pertanian dapat berangsur mereda.

Di sisi lain, sebagian besar kawasan persawahan di Wajo dan Sidrap saat ini sebenarnya telah memasuki fase panen. Musim tanam berikutnya dijadwalkan akan kembali dimulai pada periode Oktober hingga Maret mendatang. Sebelum siklus penanaman baru dimulai, pemerintah berjanji akan memperketat pengawasan alokasi ketersediaan air guna memastikan krisis kekeringan serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Penulis

Related Articles

Back to top button