Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Jangan Panik! Isu Pertamax Naik Jadi Rp17.850 Ternyata Hoaks, Ini Penjelasan Resmi Pertamina 

Wamanews.id, 31 Maret 2026 – Jagat maya kembali dihebohkan dengan beredarnya informasi yang menyebutkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax akan melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp17.000-an per liter. Kabar ini sontak memicu keresahan, terutama bagi warga di Sulawesi Selatan yang baru saja melewati masa libur Lebaran dan tengah beradaptasi dengan kondisi ekonomi pasca-hari raya.

Namun, bagi Anda para pengguna setia Pertamax, sebaiknya tarik napas dalam-dalam dan jangan terburu-buru “tancap gas” menyebarkan berita tersebut. Pasalnya, PT Pertamina (Persero) secara resmi menegaskan bahwa kabar kenaikan harga yang bombastis tersebut adalah informasi yang tidak benar atau hoaks.

Menanggapi liar pesannya informasi tersebut, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, memberikan pernyataan tegas untuk menenangkan publik. Ia memastikan bahwa hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari korporasi mengenai perubahan harga BBM nonsubsidi per 1 April 2026.

“Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026,” ujar Baron saat memberikan keterangan kepada awak media baru-baru ini.

Lebih lanjut, Baron menjelaskan bahwa angka-angka yang beredar di media sosial, yang menyebutkan Pertamax akan naik dari Rp12.300 menjadi Rp17.850 per liter, bukan berasal dari sumber resmi Pertamina. Ia menyayangkan beredarnya spekulasi yang tidak bertanggung jawab tersebut karena dapat menciptakan ketidakstabilan di tengah masyarakat.

Setelah ditelusuri, isu panas ini ternyata bersumber dari sebuah dokumen atau materi simulasi internal yang tersebar secara tidak resmi ke ruang publik. Dalam narasi yang viral, disebutkan bahwa harga Pertamax harus dikoreksi secara tajam akibat tiga faktor krusial:

  1. Lonjakan Harga Minyak Dunia: Harga minyak mentah global yang diproyeksikan menembus level USD120 per barel.
  2. Pelemahan Rupiah: Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menekan biaya impor energi.
  3. Kenaikan Harga Dasar: Adanya penyesuaian pada komponen pembentuk harga dasar BBM di hulu.

Tak hanya Pertamax, produk nonsubsidi lainnya seperti Pertamax Turbo dan Dexlite juga ikut “dicatut” dalam daftar kenaikan harga tersebut. Namun, Pertamina menegaskan bahwa data-data tersebut hanyalah proyeksi atau simulasi pasar yang lazim dilakukan dalam kajian bisnis, dan bukan merupakan harga yang akan diberlakukan kepada konsumen.

Di tengah keriuhan isu BBM nonsubsidi, pemerintah melalui kementerian terkait juga memberikan jaminan tambahan. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah dengan memastikan harga BBM subsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tetap stabil.

Kebijakan ini diambil sebagai bantalan ekonomi agar inflasi tetap terkendali, mengingat peran vital BBM dalam menggerakkan roda logistik dan transportasi publik. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga minyak dunia tanpa harus membebani rakyat secara langsung melalui kenaikan harga BBM subsidi.

Fenomena “panic buying” yang sempat terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu (seperti di Bone dan Sinjai) menjadi pelajaran berharga. Berita hoaks atau spekulasi yang belum terverifikasi dapat memicu antrean panjang di SPBU yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Pertamina mengimbau seluruh masyarakat Indonesia, agar selalu merujuk pada kanal informasi resmi perusahaan seperti situs web https://www.google.com/search?q=pertamina.com, aplikasi MyPertamina, atau akun media sosial resmi bercentang biru milik Pertamina.

Ingat, di era digital seperti sekarang, ketelitian dalam menyaring informasi adalah “bahan bakar” utama agar kita tidak terjebak dalam keresahan yang tidak berdasar. Jadi, tetaplah tenang, dan gunakanlah BBM secara bijak sesuai dengan kebutuhan kendaraan Anda.

Penulis

Related Articles

Back to top button