Gas Elpiji 12 Kg Langka di NTT, Operasional Program Makan Bergizi Gratis Terhenti Sementara

Wamanews.id, 15 Mei 2026 – Krisis energi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mulai berdampak pada sektor pelayanan publik esensial. Kelangkaan gas Elpiji nonsubsidi tabung 12 kilogram dilaporkan terjadi di berbagai wilayah di NTT, yang mengakibatkan penghentian operasional sementara pada sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kondisi ini secara langsung memukul pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah.
Berdasarkan laporan resmi, penghentian operasional dapur-dapur produksi makanan ini berlangsung secara bertahap dan mulai meluas sejak pekan kedua bulan Mei 2026. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai pemenuhan gizi bagi anak-anak dan kelompok sasaran di wilayah-wilayah terdampak.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha, mengungkapkan bahwa kendala distribusi energi ini pertama kali memicu penghentian aktivitas di Kabupaten Manggarai pada 8 Mei 2026. Kurangnya stok gas di tingkat agen dan pengecer membuat SPPG di wilayah tersebut tidak mampu melanjutkan proses masak-memasak harian.
Kondisi tersebut ternyata tidak membaik dan justru meluas ke daerah lain. Memasuki tanggal 11 hingga 12 Mei 2026, krisis serupa menjalar ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Kabupaten Belu, hingga Kabupaten Sumba Barat.
“SPPG berhenti operasional sementara disebabkan kelangkaan gas di beberapa wilayah Provinsi NTT. Penghentian berlangsung bertahap sejak 8 Mei 2026,” ujar Dadang Hendrayudha dalam keterangannya di Jakarta, sebagaimana dikutip pada Jumat (15/5/2026).
Kelangkaan Elpiji 12 kg ini menjadi hambatan krusial karena hampir seluruh SPPG di lapangan mengandalkan bahan bakar tersebut untuk mendukung kegiatan produksi makanan dalam skala besar secara cepat. Tanpa pasokan gas yang memadai, pelayanan gizi yang menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat berjalan normal.
Dadang menambahkan bahwa ketidakpastian pasokan ini membuat layanan kepada masyarakat terganggu. “Kelangkaan gas Elpiji 12 kilogram memengaruhi operasional SPPG di lapangan sehingga beberapa layanan belum dapat berjalan normal sampai pasokan kembali tersedia,” tuturnya menjelaskan situasi di lapangan.
Tabel: Wilayah Terdampak Penghentian Operasional SPPG di NTT
| Wilayah / Kabupaten | Tanggal Mulai Terdampak | Dampak Operasional |
| Kabupaten Manggarai | 8 Mei 2026 | Berhenti Beroperasi (Awal) |
| Kab. Timor Tengah Utara | 11-12 Mei 2026 | Berhenti Beroperasi |
| Kota Kupang | 11-12 Mei 2026 | Layanan Belum Normal |
| Kabupaten Belu | 11-12 Mei 2026 | Berhenti Sementara |
| Kabupaten Sumba Barat | 11-12 Mei 2026 | Berhenti Sementara |
Menanggapi situasi darurat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) tidak tinggal diam. BGN saat ini tengah melakukan pemantauan intensif dan menjalin koordinasi lintas sektoral, termasuk dengan pihak penyedia energi dan pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah untuk mencari solusi cepat terkait jalur distribusi gas agar pasokan kembali stabil dalam waktu dekat.
Upaya normalisasi distribusi gas Elpiji 12 kg menjadi prioritas utama guna menjamin keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis di NTT. Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi akar masalah kelangkaan energi ini, mengingat pentingnya program tersebut bagi peningkatan kualitas gizi di wilayah timur Indonesia.
Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan energi dan infrastruktur pendukung di daerah terpencil agar program-program strategis nasional tidak terhambat oleh masalah logistik dasar.





