Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Laporan Pentagon: 140 Tentara AS Terluka dan 7 Tewas Akibat Gempuran Drone-Rudal Iran

Wamanews.id, 11 Maret 2026 – Eskalasi perang yang pecah antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari 2026 terus menunjukkan tren yang mematikan. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, atau yang lebih dikenal sebagai Pentagon, baru saja merilis data resmi mengenai jumlah personel militer mereka yang menjadi korban dalam konfrontasi bersenjata yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 140 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka dan 7 orang lainnya dinyatakan tewas sejak operasi militer tersebut dimulai pada 28 Februari lalu. Angka ini mencerminkan betapa tingginya intensitas serangan yang diluncurkan Teheran terhadap fasilitas militer Washington di negara-negara Teluk.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam konferensi persnya menjelaskan bahwa mayoritas tentara yang menjadi korban luka berada dalam kondisi stabil. Berdasarkan data medis, sekitar 108 prajurit telah dinyatakan sembuh dan kembali menjalankan tugas mereka di garis depan setelah mendapatkan perawatan darurat.

Namun, tidak semua personel beruntung. Parnell mengungkapkan bahwa ada delapan prajurit yang saat ini sedang berjuang melewati masa kritis akibat luka serius yang diderita.

“Delapan personel kami mengalami luka berat dan saat ini tengah menjalani penanganan medis intensif di fasilitas militer kelas satu. Kami terus memantau perkembangan mereka setiap jamnya,” tegas Parnell.

Selain angka luka-luka, kerugian paling menyakitkan bagi militer Paman Sam adalah gugurnya tujuh personel. Pentagon merinci bahwa enam di antaranya tewas seketika saat gelombang serangan dronebunuh diri Iran menghantam fasilitas militer Amerika yang berada di Kuwait.

Sementara itu, satu personel lainnya dilaporkan tewas dalam insiden terpisah, yakni serangan rudal yang menyasar pangkalan militer AS di Arab Saudi. Serangan-serangan ini menunjukkan kemampuan presisi teknologi militer Iran yang mampu menembus sistem pertahanan udara di kawasan tersebut.

Serangan balasan Iran ini diklaim oleh Teheran sebagai bentuk respons sah atas operasi militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah kedaulatan Iran. Dalam waktu kurang dari dua pekan, Teheran telah meluncurkan puluhan rudal balistik dan ratusan drone ke berbagai titik strategis militer Amerika di Timur Tengah.

Intensitas serangan mencapai puncaknya pada sepuluh hari pertama perang. Kawasan Teluk kini menjadi zona merah di mana rudal dan drone masih terus menghantui pangkalan-pangkalan AS. Meskipun pejabat militer Amerika sempat mengeklaim bahwa tekanan dari pihak Iran mulai menurun setelah serangan udara AS menghancurkan beberapa gudang senjata dan fasilitas peluncuran di Iran, kenyataan di lapangan berkata lain.

Kecepatan perkembangan konflik ini telah menarik perhatian dunia internasional. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 14 hari, perang ini telah menyeret banyak negara tetangga dan memperbesar risiko pecahnya konfrontasi regional yang lebih luas di seluruh wilayah Timur Tengah.

Keterlibatan pangkalan di Kuwait dan Arab Saudi sebagai sasaran serangan menandakan bahwa zona perang tidak lagi terbatas pada perbatasan Iran semata, melainkan telah meluas ke jalur-jalur logistik dan energi global. Pentagon kini berada di bawah tekanan besar untuk menentukan langkah selanjutnya: apakah akan terus meningkatkan eskalasi atau mencari jalan keluar diplomatik guna menekan jumlah korban jiwa yang terus berjatuhan. 

Penulis

Related Articles

Back to top button