BMKG: Dampak El Nino, Musim Kemarau 2026 Diprakirakan Lebih Panjang Hingga November!

Wamanews.id, 24 Juli 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim tahun ini. Berdasarkan pemutakhiran data klimatologi terbaru, fenomena El Niño diprakirakan bakal memberikan pengaruh signifikan terhadap pola musim kemarau 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Dampak dari fenomena iklim global tersebut menyebabkan musim kemarau tahun 2026 terasa jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal, sekaligus memiliki durasi waktu yang lebih panjang. Jika pada kondisi normal periode kemarau berakhir sekitar bulan Oktober, pada tahun ini musim kemarau diprediksi bertahan hingga November 2026, bahkan kondisi kering ekstrem berpotensi terasa mulai Juni 2026 hingga Januari 2027.
Puncak musim kemarau secara nasional diperkirakan terjadi pada rentang Juli hingga September, dengan mayoritas daerah mengalaminya pada bulan Agustus 2026. Sementara itu, peralihan menuju musim hujan diprakirakan baru berlangsung secara bertahap mulai awal tahun 2027.
Awal masuk, puncak, hingga berlanjutnya kemarau bervariasi di setiap daerah tergantung pada karakteristik Zona Musim (ZOM) masing-masing. Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per Juni 2026, berikut estimasi rentang durasi kemarau di berbagai kepulauan Indonesia:
- Pulau Jawa: 11 hingga 30 dasarian (sekitar 110 – 300 hari).
- Bali, NTB, dan NTT: 19 hingga 29 dasarian (sekitar 190 – 290 hari).
- Pulau Sulawesi: 5 hingga 28 dasarian (sekitar 50 – 280 hari).
- Pulau Sumatera: 3 hingga 28 dasarian (sekitar 30 – 280 hari).
- Maluku Utara, Maluku, & Papua: 3 hingga 23 dasarian (sekitar 30 – 230 hari).
- Pulau Kalimantan: 4 hingga 18 dasarian (sekitar 40 – 180 hari).
Tabel: Timetable Kedatangan Musim Kemarau 2026 di Sulawesi Selatan (Sulsel)
| Bulan Mulai Kemarau | Cakupan Wilayah & Zona Musim (ZOM) di Sulsel |
| Maret 2026 | Seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar. |
| April 2026 | Sebagian besar Takalar, Jeneponto, serta Gowa bagian selatan & barat. |
| Mei 2026 | Kota Makassar, Pangkep, Maros, Parepare, Pinrang, Barru, & Tana Toraja. |
| Juni 2026 | Bulukumba (timur), Soppeng, Bone (barat), Sidrap, Wajo, Enrekang, Luwu, Palopo, Toraja Utara, & Luwu Timur. |
Khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan, BMKG mencatat bahwa peralihan menuju kemarau telah berlangsung secara bertahap sejak Maret 2026, diawali dari kawasan Kepulauan Selayar, lalu meluas ke daerah pesisir barat dan wilayah daratan lainnya hingga Juni 2026.
Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, menjelaskan bahwa puncak kemarau di Sulsel diprakirakan terjadi pada Agustus 2026. Musim kering ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga November sebelum memasuki masa transisi secara bertahap.
“Kemungkinan besar bulan Desember musim hujan (di Sulsel),” ujar Syamsul Bahri saat memaparkan analisis prediksi iklim daerah.
Menghadapi potensi ancaman krisis air bersih dan penurunan pasokan irigasi pertanian, BMKG menginstruksikan pemerintah daerah, sektor agribisnis, serta pengelola sumber daya air untuk segera mengambil langkah mitigasi risiko kekeringan.
Masyarakat juga diimbau untuk membiasakan penggunaan air bersih secara hemat dan bijak. Selain itu, guna mencegah terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun pemukiman, publik diminta menghindari aktivitas pembakaran sampah terbuka, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta secara berkala memeriksa instalasi listrik untuk mengantisipasi potensi korsleting.







