Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Badan Geologi Buka Suara Soal Gas SO2

Wamanews.id, 8 September 2026 – Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali dilaporkan mengalami erupsi pada Selasa pagi (8/9/2026) sekitar pukul 05.34 WIB. Peristiwa ini melengkapi rangkaian peningkatan aktivitas vulkanik yang terus terjadi di gunung api aktif tersebut sejak akhir pekan lalu.
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tinggi kolom abu akibat erupsi terbaru ini tidak teramati dari visual lapangan. Namun, rekaman seismograf menunjukkan aktivitas erupsi terjadi dengan amplitudo maksimum mencapai 44 mm dan durasi sekitar 10 detik.
Aktivitas ini memperpanjang periode erupsi Gunung Anak Krakatau yang sebelumnya juga mengalami erupsi hebat sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari lalu. Pada erupsi sebelumnya, sebaran abu vulkanik hitam dilaporkan menjangkau sejumlah daerah di Lampung, Banten, Jawa Barat, hingga berdampak pada sebagian wilayah DKI Jakarta.
Selain abu vulkanik dan lontaran batu pijar, erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi secara menerus selama 25 jam sebelumnya diiringi oleh fenomena lava fountain (semburan lava menerus) serta aliran lava. Fenomena tersebut memicu pelepasan gas vulkanik atau degassing yang cukup kuat, salah satunya adalah gas Sulfur Dioksida (SO2).
Beredarnya informasi mengenai paparan gas SO2 di media sosial sempat menimbulkan keresahan dan kepanikan di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Badan Geologi memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan disinformasi yang berkembang.
Badan Geologi menjelaskan bahwa citra peta satelit yang beredar di media sosial menampilkan jumlah akumulasi gas SO2 pada seluruh kolom atmosfer di ketinggian tertentu, bukan merupakan nilai konsentrasi di permukaan bumi yang langsung dihirup oleh manusia.
“Anomali SO2 pada konsentrasi lebih tinggi dari udara normal di lapisan atmosfer bukan angka kualitas udara di permukaan,” tulis Badan Geologi dalam keterangan resminya.
Terkait keluhan masyarakat di kawasan Banten, Jabodetabek, hingga Lampung yang mengaku mencium bau menyengat mirip belerang, Badan Geologi menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat aktivitas lava fountain dan pelepasan gas di lapisan atmosfer bawah. Gas vulkanik tersebut kemudian terbawa oleh pergerakan angin dekat permukaan tanah.
Pihaknya menekankan bahwa bahaya gas SO2 bagi kesehatan manusia sangat bergantung pada posisi ketinggiannya di troposfer. Apabila gas berada pada ketinggian ribuan meter di troposfer, gas tersebut tidak akan langsung terhirup oleh masyarakat yang berada di permukaan.
Guna menjaga keselamatan warga di sekitar area gunung berapi maupun wilayah terdampak sebaran gas, Badan Geologi menerbitkan sejumlah rekomendasi penting:
- Patuhi Radius Bahaya: Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 3 km dari kawah aktif.
- Sikap Saat Tidak Tercium Bau: Apabila tidak tercium bau menyengat di lingkungan sekitar, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak perlu cemas berlebihan.
- Penggunaan Masker: Jika tercium bau gas belerang atau SO2 yang menyengat, warga disarankan untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
- Tetap di Dalam Ruangan: Meminimalkan paparan gas dengan cara memperbanyak aktivitas di dalam rumah atau bangunan.
- Hindari Mengonsumsi Air Hujan: Masyarakat dilarang keras meminum air hujan di kawasan terdampak. Gas sulfur yang bercampur dengan uap air di udara dapat menyebabkan air hujan bersifat asam (hujan asam) yang berbahaya bagi kesehatan.
Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang, mengacu pada imbauan resmi pemerintah, serta tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu liar yang beredar di media sosial tanpa verifikasi otoritas resmi.






