Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Indomie Tembus Rp4.000 dan Harga Tepung Naik 167 Persen, Warga Mulai Merasa Berat

Wamanews.id, 3 November 2026 – Harga Indomie goreng sekarang resmi tembus Rp4.000 per bungkus. Hal ini terlihat di rak minimarket, di mana Indomie yang biasanya disimpan di dalam kulkas itu sudah ditempel label harga Rp4.000.

Buat banyak orang, terutama anak kos, kenaikan ini sangat terasa. Indomie goreng selama ini dianggap makanan paling murah dan penyelamat saat akhir bulan. Kalau dulu masih bisa dapat Rp3.200 sampai Rp3.500, sekarang harus bayar Rp4.000 untuk satu bungkus saja.

Kenaikan Indomie ini terjadi bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Per tanggal 1 November pukul 00.57, data dari Morningstar mencatat 1 Dolar Amerika Serikat setara dengan Rp18.127,15. Artinya rupiah makin lemah terhadap dolar.

Melemahnya rupiah ini ada hubungannya dengan harga Indomie. Bahan baku Indomie itu banyak yang masih impor, jadi kalau dolar naik, biaya produksi juga ikut naik dan akhirnya harga di minimarket ikut terkerek.

Tidak cuma Indomie yang naik, bahan bakunya yaitu tepung terigu naiknya bahkan lebih parah. Harga tepung tercatat naik sampai 167 persen. Ini angka yang sangat besar untuk bahan pokok.

Tepung yang naik itu adalah merek-merek yang biasa kita pakai sehari-hari. Di foto terlihat ada Cakra Kembar, Lencana Merah, Kunci Biru, dan Segitiga Biru. Semua merek itu ada di rak yang sama dan semuanya naik.

Kalau dihitung, harga tepung yang tadinya hanya Rp6.000 per kilogram, sekarang jadi Rp16.000 per kilogram. Jadi kalau beli satu kuintal, yang tadinya cuma Rp600 ribu, sekarang harus bayar Rp1,6 juta.

Kenaikan tepung ini bukan sekadar angka di laporan ekonomi, tapi benar-benar dirasakan di dapur. Yang paling terpukul adalah UMKM kecil seperti penjual kerupuk, penjual cilok, penjual cireng, penjual takoyaki, dan tukang kue rumahan.

Karena modal tepung naik 167 persen, banyak UMKM yang tidak sanggup produksi setiap hari. Akhirnya mereka terpaksa mengurangi jadwal produksi, dari yang tadinya buka tiap hari jadi hanya 3 sampai 4 hari dalam seminggu untuk menekan biaya.

Dampaknya merembet ke pekerja harian. Kalau UMKM mengurangi produksi, maka pekerja yang biasa membantu membuat kerupuk atau cilok jadi tidak dapat jadwal kerja. Uang harian mereka berkurang. Jadi kenaikan dari Indomie Rp4.000 dan tepung 167 persen ini benar-benar terasa dari hulu sampai hilir, dari pabrik sampai ke pembeli.

Penulis

Related Articles

Back to top button