Emisi Karhutla RI Tembus 180 Juta Ton, Terburuk dalam 24 Tahun Terakhir

Wamanews.id, 3 November 2026 – Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada tahun 2026 tercatat sebagai yang terburuk dalam 24 tahun terakhir. Total emisi hingga Oktober 2026 menembus angka 180 juta ton karbon.
Temuan tersebut berasal dari laporan terbaru Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), layanan pemantau komposisi atmosfer Bumi milik Uni Eropa. Laporan itu dikutip CNN Indonesia pada 22 Oktober 2026.
Berdasarkan grafik kumulatif tahunan dari data CAMS, emisi karhutla Indonesia tahun ini mencapai kisaran 180 juta ton karbon hingga Oktober. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata historis tahunan yang hanya berada di kisaran 75 hingga 80 juta ton karbon per tahun.
CAMS juga melaporkan bahwa lonjakan emisi sudah terjadi sejak akhir Juli 2026. Sejak saat itu, karhutla di berbagai wilayah Indonesia terus melepaskan asap dalam jumlah besar tanpa jeda.
Citra pemantauan dari aplikasi CAMS Fire Emissions Watch memperkuat temuan tersebut. Per 20 Oktober 2026 pukul 09.00 UTC, gumpalan asap terlihat makin meluas dan hampir menutupi seluruh wilayah Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.
Kondisi paling kritis terjadi pada periode 13 hingga 19 Oktober 2026. Pada periode analisis mingguan itu, total emisi global tercatat 35,9 juta ton, dan Indonesia menjadi penyumbang terbesar dengan 19,6 juta ton karbon.
Artinya, lebih dari separuh emisi kebakaran hutan global pada minggu itu berasal dari Indonesia. Angka tersebut meningkat 245 persen dari rata-rata historisnya, menunjukkan eskalasi yang tidak biasa.
Pada periode yang sama, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan tingkat emisi terparah. Total volume emisi karbon harian di provinsi tersebut mencapai 1,32 juta ton karbon per hari.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa kebakaran masih belum padam sepenuhnya. Masih ada 570,08 hektare lahan yang terbakar di 6 provinsi prioritas karhutla.
Dengan capaian 180 juta ton karbon hingga Oktober, Indonesia kini menghadapi tantangan lingkungan yang serius. Emisi yang jauh di atas rata-rata 24 tahun ini berpotensi memperburuk kualitas udara dan mempercepat dampak perubahan iklim.







