Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

BPOM Catat 80% Orang Indonesia Pilih Obati Penyakit Sendiri, Banyak Andalkan ChatGPT dan Claude

Wamanews.id, 4 November 2026 – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, mengungkapkan fakta mengejutkan tentang perilaku kesehatan masyarakat Indonesia. Hampir 80 persen warga memilih mengobati penyakitnya sendiri tanpa ke dokter.

Data tersebut disampaikan Taruna dalam rangkaian Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (31/10/2026). Summit berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2025, angkanya mencapai 78,9 persen. Menurut Taruna, tren swamedikasi atau pengobatan mandiri ini terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Tak hanya itu, BPOM juga menyoroti fenomena baru di era digital. Sebagian masyarakat kini mulai menjadikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seperti Claude dan ChatGPT sebagai dokter pribadi.

Taruna menilai kebiasaan tersebut berisiko. Menurutnya, jawaban yang diberikan AI hanyalah kumpulan informasi dari berbagai sumber di internet dan tidak selalu akurat.

“Betul bahwa tidak seluruh informasi yang di AI itu benar, karena AI kan menggunakan algoritme berdasarkan berita-berita yang muncul secara online,” ujar Taruna di Nusa Dua.

Ia menegaskan AI seharusnya hanya menjadi asisten untuk mencari informasi kesehatan, bukan penasihat utama. Penentuan diagnosis dan terapi tetap harus melalui pemeriksaan dokter atau apoteker.

BPOM juga menemukan 80 persen penggunaan antibiotik di Indonesia dilakukan tanpa resep dokter berdasarkan data 2022-2025. Padahal antibiotik termasuk obat keras yang wajib dengan resep karena bisa memicu resistensi antimikroba atau silent pandemic.

Kebanyakan masyarakat, kata Taruna, baru berobat ke dokter ketika kondisinya sudah parah dan tidak tertahankan. Hanya sekitar 20 persen yang akhirnya ke fasilitas kesehatan, dan biasanya sudah dalam kondisi gawat.

Untuk menangkal disinformasi dan salah guna obat, BPOM kini memperkuat transparansi lewat digitalisasi. Di antaranya penerapan 2D Barcode dan e-labelling pada kemasan obat, pengawasan siber di e-commerce, integrasi data dengan platform SATUSEHAT milik Kemenkes, serta kampanye Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa).

Penulis

Related Articles

Back to top button