Lari Jadi Gaya Hidup Gen Z, Bukan Sekedar Olahraga

Wamanews.id, 30 Oktober 2026 – Akhir pekan kini tidak hanya identik dengan suasana santai, tetapi juga dengan pemandangan anak muda yang memenuhi jalanan, taman, dan area publik untuk berlari. Ada yang datang bersama teman, bergabung dengan komunitas, atau memilih berlari sendirian sambil menikmati suasana pagi.
Bagi sebagian Gen Z, lari bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran tubuh, melainkan telah menjadi bagian dari rutinitas dan gaya hidup. Selain menjaga kesehatan, lari juga menjadi kesempatan untuk melepas penat, bertemu orang baru, dan mengambil jeda dari kesibukan sehari-hari.
Tren ini semakin terlihat melalui kegiatan lari bersama, acara fun run, hingga berbagai perlombaan dengan jarak yang beragam. Penggunaan aplikasi pencatat aktivitas seperti Strava serta perhatian terhadap perlengkapan lari, mulai dari sepatu hingga pakaian olahraga, turut mewarnai perkembangan lari sebagai bagian dari gaya hidup anak muda.
Dilansir dari Year in Sport Trend Report 2025 yang diterbitkan Strava, jumlah klub baru di platform tersebut hampir meningkat empat kali lipat sepanjang 2025, sementara klub lari tumbuh 3,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan berkembangnya aktivitas komunitas di kalangan pengguna Strava, meskipun belum dapat mewakili seluruh Gen Z di Indonesia.
Bagi sebagian pelari, melangkahkan kaki di jalanan atau taman bukan hanya tentang mencapai jarak tertentu atau mencatat waktu tercepat. Aktivitas ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengalihkan perhatian sejenak dari beban pikiran, menikmati waktu sendiri, dan memperbaiki suasana hati.
Di sisi lain, lari juga membuka kesempatan untuk membangun hubungan sosial. Kegiatan yang awalnya dilakukan untuk berolahraga dapat berlanjut dengan sarapan bersama, minum kopi, atau sekadar berbincang setelah berlari. Bagi anggota komunitas, kebersamaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan.
Media sosial turut memperkuat perkembangan tren ini. Unggahan tentang jarak tempuh, catatan waktu, foto setelah berlari, hingga rekomendasi sepatu membuat pengalaman berlari mudah dibagikan kepada orang lain.
Aplikasi seperti Strava juga memungkinkan pelari memantau perkembangan latihan dan memberikan apresiasi kepada teman. Jika dimanfaatkan secara positif, media sosial dapat menjadi sumber motivasi sekaligus sarana untuk menemukan komunitas dengan minat serupa.
Namun, popularitas lari juga dapat menghadirkan tekanan baru. Keinginan mengikuti tren terkadang membuat seseorang terlalu fokus mengejar pace, menambah jarak tempuh, atau membandingkan pencapaiannya dengan pelari lain. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan fisik, tujuan, dan ritme latihan yang berbeda.
Karena itu, penting bagi Gen Z untuk menjalani aktivitas lari sesuai kemampuan tubuh. Memulai dari jarak yang sesuai, meningkatkan intensitas secara bertahap, dan memberikan waktu istirahat merupakan bagian dari kebiasaan olahraga yang lebih aman. Lari seharusnya menjadi aktivitas yang mendukung kebugaran dan kesejahteraan, bukan tuntutan baru demi mengikuti ekspektasi orang lain.
Pada akhirnya, lari memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjadikannya cara untuk menjaga kebugaran, melepas penat, mencari teman, atau menikmati waktu sendiri. Di kalangan Gen Z, beragam pengalaman tersebut membuat lari berkembang menjadi lebih dari sekadar olahraga, yakni bagian dari gaya hidup yang menghubungkan kesehatan, pertemanan, dan kebutuhan untuk merawat diri.
Penulis: Masdiana







