Data Terbaru dari BPS: Belanja Rokok Warga RI Kalahkan Belanja Bahan Pangan Bergizi

Wamanews.id, 12 Oktober 2026 – Pola belanja masyarakat Indonesia menunjukkan fakta yang memprihatinkan. Pengeluaran untuk rokok dan tembakau ternyata jauh lebih besar dibandingkan belanja untuk bahan pangan bergizi seperti daging, telur, susu, dan buah.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026″ yang diunggah 5 Oktober 2026, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp91.708.
Jumlah tersebut bahkan lebih besar dari gabungan belanja untuk daging, telur, dan susu yang hanya sebesar Rp85.267 per kapita per bulan. Bahkan pengeluaran untuk buah-buahan hanya tercatat Rp48.784 per kapita per bulan.
Kondisi di perdesaan lebih mencolok. Data BPS menunjukkan masyarakat desa menghabiskan Rp100.951 per kapita per bulan hanya untuk rokok dan tembakau. Angka ini hampir empat kali lipat dari belanja daging yang hanya Rp26.046.
Fakta ini juga diperparah dengan belanja untuk kelompok padi-padian yang hanya Rp92.141 per kapita. Artinya, pengeluaran untuk rokok mengalahkan belanja makanan pokok sekaligus lauk pauk bergizi.
BPS juga mencatat tingkat partisipasi konsumsi rokok di perkotaan dan perdesaan mencapai 67,59 persen pada Maret 2026. Rokok kretek filter menjadi jenis yang paling dominan dengan proporsi 48,56 persen dari total konsumsi rokok masyarakat.
Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam pemenuhan gizi keluarga. Ketika belanja rokok lebih besar dibanding bahan pangan, kualitas konsumsi dan kecukupan gizi anak dan keluarga berpotensi terganggu.
Laporan ini juga sejalan dengan data Indeks Penjualan Riil Bank Indonesia yang menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penopang utama penjualan eceran di tengah kenaikan pengeluaran.
Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp1.657.281. Dari jumlah itu, besarnya alokasi untuk rokok dinilai menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam mengedukasi masyarakat untuk beralih ke belanja yang lebih produktif dan bergizi.







