Mappenre Tojang, Tradisi Bugis yang Sarat Makna dan Doa untuk Kehidupan Anak

Wamanews.id, 30 September 2026 – Kebudayaan Bugis memiliki beragam tradisi yang mengiringi perjalanan hidup manusia, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, perkawinan hingga kematian. Salah satunya adalah Mappenre Tojang, sebuah tradisi yang berkaitan dengan kelahiran dan kehidupan seorang anak.
Secara sederhana, Mappenre Tojang dapat dipahami sebagai prosesi menaikkan atau menempatkan bayi ke dalam tojang, yakni ayunan. Namun, di balik prosesi tersebut terdapat sejumlah simbol dan harapan yang membuat tradisi ini tidak sekadar menjadi sebuah kegiatan keluarga.
Bagi masyarakat Bugis yang masih mempertahankannya, Mappenre Tojang menjadi bagian dari ungkapan syukur atas kelahiran seorang anak. Kehadiran anak dipandang sebagai anugerah yang patut disyukuri dan dirayakan bersama keluarga serta kerabat.
1. Simbol rasa syukur atas kelahiranKelahiran seorang anak menjadi salah satu peristiwa penting dalam kehidupan keluarga. Karena itu, Mappenre Tojang dapat ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian ungkapan syukur keluarga atas hadirnya anggota baru.Tradisi tersebut juga memperlihatkan bahwa kelahiran seorang anak tidak hanya dipandang sebagai peristiwa pribadi antara orang tua dan anak, tetapi juga memiliki dimensi sosial karena melibatkan keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
2. Tojang sebagai simbol harapanBagian yang paling mudah dikenali dari tradisi ini adalah tojang atau ayunan. Bayi ditempatkan di dalamnya sebagai bagian dari prosesi adat.Ayunan kemudian dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan kehidupan. Seorang anak yang baru memulai kehidupannya diharapkan dapat tumbuh dengan baik, mendapatkan kasih sayang dan menjalani kehidupannya dengan penuh keselamatan.Makna tersebut tidak berarti bahwa ayunan secara otomatis menentukan kehidupan seorang anak. Ia lebih tepat dipahami sebagai simbol dan doa yang disampaikan keluarga melalui sebuah tradisi.
3. Doa untuk masa depan anakMappenre Tojang juga berkaitan erat dengan harapan orang tua terhadap masa depan anak. Di balik prosesi yang dilakukan, terdapat doa agar anak tumbuh sehat, memiliki kehidupan yang baik dan kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga maupun masyarakat.Dalam tradisi Bugis, berbagai ritual kehidupan memang kerap mengandung simbol dan harapan yang disampaikan secara turun-temurun. Karena itu, memahami Mappenre Tojang tidak cukup hanya dengan melihat prosesi menaikkan bayi ke ayunan, tetapi juga perlu melihat nilai yang ingin diwariskan keluarga kepada anak.
4. Mempererat hubungan keluargaPelaksanaan tradisi juga memperlihatkan pentingnya hubungan keluarga dalam kehidupan masyarakat Bugis. Kehadiran kerabat dalam sebuah acara kelahiran menjadi bentuk perhatian dan kebersamaan terhadap keluarga yang baru mendapatkan anggota baru.Dengan demikian, Mappenre Tojang tidak hanya berhubungan dengan bayi, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat hubungan kekerabatan.
5. Warisan pengetahuan antargenerasiNilai lain yang dapat dilihat dari Mappenre Tojang adalah proses pewarisan budaya. Tradisi yang dilakukan oleh generasi sebelumnya kemudian dikenalkan kembali kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks pelestarian budaya, keberadaan tradisi semacam ini menjadi penting karena anak-anak dan generasi muda dapat mengenal kebiasaan masyarakatnya melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui cerita atau buku.
Sejumlah tradisi masyarakat Bugis juga menunjukkan bahwa unsur budaya lokal dapat berjalan berdampingan dengan nilai keagamaan. Dalam berbagai ritual Bugis, misalnya, terdapat praktik pembacaan doa atau kegiatan keagamaan yang menyertai tradisi masyarakat. Penelitian mengenai tradisi Bugis di berbagai daerah juga menunjukkan adanya hubungan antara tradisi lokal, nilai keagamaan dan identitas sosial masyarakat.
6. Bukan sekadar mempertahankan prosesiPelestarian Mappenre Tojang tidak harus dimaknai sebagai mempertahankan seluruh bentuk pelaksanaan persis seperti masa lalu. Yang tidak kalah penting adalah memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Ketika generasi muda mengetahui alasan sebuah tradisi dilakukan, mereka tidak hanya melihatnya sebagai serangkaian kegiatan adat. Mereka juga dapat memahami nilai kebersamaan, rasa syukur, penghormatan kepada keluarga dan harapan orang tua yang berada di baliknya.
Hal tersebut sejalan dengan karakter berbagai kearifan lokal Bugis yang tidak hanya berfungsi sebagai kebiasaan, tetapi juga mengandung nilai sosial yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian mengenai masyarakat Bugis Wajo, misalnya, berbagai unsur budaya dipahami sebagai kearifan lokal yang memiliki fungsi sosial dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Pada akhirnya, Mappenre Tojang dapat dilihat sebagai gambaran bagaimana masyarakat Bugis memberi makna terhadap sebuah kelahiran. Seorang bayi tidak hanya disambut sebagai anggota baru dalam sebuah keluarga, tetapi juga diiringi doa dan harapan untuk perjalanan hidupnya.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi seperti Mappenre Tojang menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu berbentuk benda atau bangunan. Ada pula pengetahuan, simbol, doa, dan nilai sosial yang diwariskan melalui sebuah prosesi sederhana.
Mappenre Tojang karena itu bukan hanya tentang seorang bayi yang diletakkan di dalam ayunan. Di dalamnya terdapat cerita tentang rasa syukur, kasih sayang keluarga, hubungan kekerabatan dan harapan terhadap generasi yang akan datang.Ketika tradisi tersebut masih dikenalkan dan dilakukan oleh masyarakat, yang sebenarnya sedang diwariskan bukan hanya sebuah prosesi, tetapi juga cara masyarakat Bugis memaknai kelahiran dan kehidupan manusia.







