Tradisi Maddoja Bine: Doa dan Harapan Sebelum Benih Disemai

Wamanews.id, 12 Oktober 2026 – Masyarakat Suku Bugis memiliki beragam tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian, seperti Mappadendang dan Mattimpa Bujung yang dikenal dalam perayaan atau ritual setelah panen. Namun, Suku Bugis tidak hanya memiliki tradisi unik ketika masa panen tiba. Sebelum benih padi ditanam, terdapat pula Maddoja Bine, sebuah tradisi yang menyimpan makna tersendiri dalam kehidupan petani Bugis.
Maddoja Bine merupakan salah satu tradisi pertanian masyarakat suku Bugis yang dilaksanakan sebelum penanaman padi di sawah. Secara etimologis, Maddoja berarti begadang atau berjaga, sedangkan Bine berarti benih. Dengan demikian, Maddoja Bine merujuk pada kegiatan berjaga pada malam hari untuk menunggu benih padi yang sedang direndam sebelum ditaburkan di persemaian.
Pelaksanaan Maddoja Bine diawali dengan mempersiapkan benih padi yang akan ditanam. Benih tersebut kemudian direndam dalam air sebagai bagian dari persiapan sebelum disemai. Kegiatan berjaga bukan sekedar untuk menunggu benih siap disemai, malam berjaga diisi dengan pembacaan doa (Ma baca-baca) sebagai bentuk permohonan keselamatan dan harapan agar tanaman padi tumbuh subur serta menghasilkan panen yang baik.
Selain itu, malam Maddoja Bine juga diisi dengan pembacaan atau pelantunan naskah tradisional Bugis, seperti Sure’ La Galigo. Kisah-kisah yang dilantunkan berkaitan dengan pandangan hidup dan kepercayaan masyarakat Bugis, termasuk cerita tentang Sangiang Serri yang dikenal sebagai dewi padi.
Setelah rangkaian Maddoja Bine selesai, benih padi yang telah direndam kemudian ditaburkan di persemaian. Setelah tumbuh menjadi bibit, bibit padi tersebut akan dipindahkan ke sawah untuk ditanam. Tahapan ini menunjukkan bahwa Maddoja Bine berkaitan erat dengan persiapan pertanian sekaligus menggamabrkan harapan masyarakat akan pertumbuhan padi dan hasil panen yang baik.
Maddoja Bine tidak hanya tentang persiapan penanaman benih padi, tetapi juga memberikan gambaran hubungan masyarakat suku Bugis dengan kepercayaan dan tradisi leluhur. Selain itu malam Maddoja Bine dapat menjadi momen bagi anggota keluarga maupun masyarakat untuk berkumpul bersama.
Kebersamaan tersebut membuka ruang untuk mempererat hubungan sosial, berbagi cerita, serta menjaga nilai kekeluargaan. Dengan demikian, Maddoja Bine tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Bugis.
Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi pertanian, Maddoja Bine menjadi bagian dari warisan budaya Bugis yang penting untuk terus dikenali. Keberlangsungannya memperlihatkan bagaimana praktik pertanian dapat berjalan berdampingan dengan kepercayaan dan nilai-nilai warisan leluhur.
Pengenalan budaya di lingkungan Pendidikan dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan dapat menjadi upaya pelestarian tradisi. Dengan cara tersebut, pengetahuan tentang Maddoja Bine dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat luas sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.







