Saat Lesung dan Alu Bercerita : Mengenal Tradisi Mappadendang

Wamanews.id, 7 Oktober 2026 – Suara alu yang beradu dengan lesung terdengar berirama, menciptakan suasana khas di tengah masyarakat Bugis setelah musim panen tiba. Di balik bunyi sederhana tersebut, tersimpan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus perayaan atas hasil bumi. Tradisi itu dikenal dengan nama Mappadendang. Mappadendang adalah salah satu warisan budaya masyarakat Bugis yang hingga kini masih terus dijaga dan dilaksanakan, khususnya di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan seperti Wajo, Bone, dan Soppeng.
Tradisi ini dilakukan dengan menumbuk padi secara bersama-sama sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh. Bagi masyarakat Bugis yang memiliki kehidupan agraris, Mappadendang tidak sekadar menjadi perayaan setelah masa panen, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, solidaritas, dan spiritualitas yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Nama Mappadendang sendiri menjadi salah satu penanda identitas budaya Bugis.
Meskipun tradisi perayaan panen juga dikenal di berbagai daerah dengan sebutan dan bentuk yang berbeda, Mappadendang memiliki karakteristik tersendiri yang mencerminkan budaya serta kehidupan masyarakat Bugis. Keunikan tersebut dapat dilihat dari berbagai perlengkapan dan tata cara pelaksanaannya. Lesung dan alu menjadi peralatan utama yang digunakan untuk menumbuk padi. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang mengikuti irama tertentu.
Ketukan alu yang berulang saat mengenai lesung menghasilkan bunyi khas yang menjadi bagian penting dari suasana Mappadendang. Untuk menciptakan irama yang teratur, para peserta harus menjaga ketepatan gerakan dan kekompakan satu sama lain. Pelaksanaan tradisi ini juga melibatkan masyarakat dengan pembagian peran tertentu. Berdasarkan data Warisan Budaya Indonesia, perempuan yang melakukan kegiatan di dalam bilik baruga disebut Pakkindona, sedangkan laki-laki yang melakukan gerakan pada bagian ujung lesung dikenal sebagai Pakkambona.
Bilik baruga yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan biasanya dibuat dari bambu dan dilengkapi dengan unsur anyaman tradisional. Perempuan yang mengikuti kegiatan juga mengenakan pakaian tradisional, salah satunya baju bodo sebagai bagian dari identitas busana masyarakat Bugis.
Dalam sebuah siaran PRO4 RRI Makassar. Salah seorang pemain Mappadendang, Fatmawati, menuturkan bahwa ritual tersebut melibatkan enam perempuan dan tiga laki-laki.
“Setiap yang terlibat dalam tradisi tersebut akan menggunakan pakaian tradisional suku Bugis, Peran perempuan dan laki-laki dalam Mappadendang memiliki perbedaan,” ujarnya.Fatmawati juga mengatakan perempuan akan beraksi dalam bilik baruga yang disebut dengan Pakkindona.”Laki-laki akan menari serta menabur bagian ujung lesung yang bernama Pakkambona,” kata Fatmawati. “Upacara Mappadendang juga melibatkan proses menumbuk gabah dengan menggunakan lesung. ” tambahnya.
Dalam perkembangannya, Mappadendang tidak hanya menjadi kegiatan menumbuk padi, tetapi juga menjadi bagian dari rangkaian pesta panen yang melibatkan berbagai bentuk permainan dan kesenian tradisional. Beberapa di antaranya adalah ayunan (mattojang/mappere’), permainan layang-layang (mappasajang), pajoge’, massempe, dan mallanca. Pertunjukan musik tradisional seperti kecapi juga dapat menambah kemeriahan kegiatan. Berbagai aktivitas tersebut membuat Mappadendang menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, berinteraksi, dan menikmati kebersamaan setelah melewati masa panen.
Tokoh adat, Syafaruddin, menjelaskan bahwa Mappadendang merupakan sebutan yang dikenal dalam masyarakat Bugis, sementara masyarakat di luar suku Bugis memiliki penamaan yang berbeda untuk tradisi serupa.
“Di dalam suku Bugis yang dikenal itu hanya Mappadendang, sedangkan di luar daripada Bugis itu beda lagi penamaannya.” Jelasnya.
Pada pelaksanaannya, lokasi kegiatan biasanya ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat, pemerintah, maupun pemangku adat (Addatuang). Tempat yang digunakan dapat berupa area persawahan, halaman Saoraja, lapangan, ataupun lokasi lain yang dianggap sesuai. Dalam praktiknya pada masa lalu, Mappadendang, seperti halnya ritual Mappalili, juga dilaksanakan di tempat-tempat yang dianggap sakral atau memiliki nilai khusus bagi masyarakat.
Secara tradisional, Mappadendang dilaksanakan setelah panen padi dan biasanya berlangsung setiap tahun. Dahulu, kegiatan ini identik dengan pelaksanaan pada malam hari ketika bulan purnama, terutama pada musim kemarau. Namun, seiring perubahan zaman, waktu pelaksanaan mulai mengalami penyesuaian dan kegiatan dapat dilakukan pada siang hari. Pergeseran tersebut turut memengaruhi pemaknaan tradisi. Jika sebelumnya memiliki nuansa ritual dan kesakralan yang lebih kuat, dalam perkembangannya Mappadendang juga semakin dikenal sebagai kegiatan budaya yang menjadi wadah berkumpul dan bersuka cita bagi masyarakat setelah panen raya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Mappadendang mampu beradaptasi dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Saat ini, tradisi tersebut tidak hanya hadir dalam konteks ritual setelah panen, tetapi juga dapat ditampilkan sebagai pertunjukan budaya dalam berbagai kegiatan, seperti festival, penyambutan tamu, kegiatan sekolah, hingga acara pariwisata. Fleksibilitas ini memungkinkan Mappadendang tetap diperkenalkan kepada masyarakat luas tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya yang menjadi cirinya.
Teknologi digital juga memberikan peluang baru dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi ini. Foto, video, serta konten di media sosial dapat digunakan untuk mendokumentasikan berbagai tahapan Mappadendang sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakat di luar Sulawesi Selatan. Dengan semakin luasnya penyebaran informasi melalui media digital, keberadaan tradisi ini dapat lebih mudah dikenal oleh masyarakat.
Pelestarian Mappadendang juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Anak-anak dan remaja dapat dikenalkan secara langsung dengan berbagai unsur tradisi, mulai dari penggunaan alu dan lesung hingga pakaian, musik, bahasa, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Keterlibatan tersebut penting agar Mappadendang tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan yang ditonton, tetapi juga menjadi warisan budaya yang dipahami dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Selain melalui kegiatan masyarakat, Mappadendang dapat diperkenalkan melalui lingkungan pendidikan. Sekolah dan komunitas dapat menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk mengenalkan sejarah, kesenian, nilai gotong royong, serta identitas budaya Bugis. Dengan demikian, upaya menjaga keberlangsungan Mappadendang dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik melalui pelaksanaan budaya secara langsung, pendidikan, maupun pemanfaatan teknologi digital.
Pada akhirnya, Mappadendang bukan sekadar tradisi yang hadir setelah musim panen, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Bugis yang menyimpan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta gotong royong. Di tengah perubahan zaman, keberadaannya dapat terus hidup selama masyarakat, khususnya generasi muda, turut mengenal, memahami, dan melestarikannya.
Dengan menjaga tradisi sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, bunyi alu dan lesung dalam Mappadendang diharapkan tidak hanya menjadi jejak masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Bugis di masa mendatang.







